Kamis, 24 Februari 2011

Kisah seorang pendeta Yahudi (ahli Ibadah) Bani Isroil

T

ersebutlah sebuah kisah seorang pendeta Yahudi (ahli Ibadah) Bani Isroil, pada zamannya ia terkenal termasuk orang yang banyak berdzikir, khusu’ dan tekun di dalam melaksanakan ibadah.

Ada empat orang bersaudara salah satunya adalah perempuan. Tiga bersaudara akan berangkat perang, mereka mencari siapa orang yang bisa meramut, menjaga keamanan saudara perempuannya tersebut. Ketiga-tiganya sepakat untuk menitipkan saudara perempuannya kepada seorang pendeta Yahudi dari kaum Bani Isroil, dia dipandang orang yang sangat bisa dipercaya oleh mereka.

Ketiganya datang kepada pendeta Yahudi dan memohon agar mau di titipi saudara perempuannya sampai mereka kembali dari peperangan. Tidak semudah yang mereka bayangkan, pendeta Yahudi tersebut menolak dan mohon perlindungan kepada Alloh dari mereka dan dari saudara mereka.

Ketiganya tidak henti-hentinya memohon kepadanya agar dia mau dititipi saudara perempuan mereka, sampai akhirnya pendeta Yahudi tersebut mau menuruti kehendak mereka, kemudia pendeta Yahudi berkata,

“Tempatkanlah saudara perempuanmu itu di rumah yang berhadapan dengan tempat ibadahku ini.”

Mereka bertiga menempatkan saudara perempuan mereka di rumah yang dimaksud, kemudian mereka pun pergi berangkat perang, sedangkan si gadis dalam peramutan pendeta Yahudi. Tiap harinya, pekerjaan pendeta Yahudi turun dari tempat ibadahnya melayani si gadis, mengantarkan makanan di dekat pintu tempat ibadahnya, ia mengunci kembali pintunya dan naik ke loteng tempat ibadahnya kemudian menyuruh si gadis untuk mengambil makanan yang telah di sediakan, dan si gadispun keluar mengambil makanan tersebut.

Iblis berusaha terus melemahkan hati pendeta Yahudi sambil menghias-hiasi, menyenangkannya bahwa ia telah melakukan suatu kebaikan dan menganggap masalah besar keluarnya si gadis dari rumahnya diwaktu siang dan menakut-nakutinya kalau sampai ketahuan oleh seseorang bisa diganggunya. Kemudian Iblis membisikkan lagi tipu dayanya,

“Wahai pendeta Yahudi, jika kamu berjalan keluar dari tempat ibadahmu dan meletakkan makanan di dekat pintu rumah si gadis, ini lebih besar pahalamu.”

Tidak henti-hentinya Iblis membisikkan tipu dayanya sehingga pendeta Yahudi tersebut melakukannya, yaitu membawakan makanan dan meletakkannya di pintu rumah si gadis. Tetapi dia tidak mengajak bicara sama sekali, keadaan yang demikian berjalan terus beberapa saat.

Iblis lagi-lagi membisikkan pujiannya kepada si pendeta Yahudi yang telah menuruti kehendaknya bahwa dia telah melakukan amalan yang lebih baik dan dia pasti mendapat pahala yang besar. Setelah itu Iblis mulai lagi mebisikkan keinginannya,

“Wahai pendeta Yahudi, jika kamu membawakan makanan si gadis langsung dimasukkan dalam rumahnya, maka itu lebih baik lagi dan pahalamu juga lebih besar.”

Maka tidak henti-hentinya si Iblis membisikkan kedalam hati Pendeta Yahudi sehingga dia pun akhirnya membawa makanan si gadis dan meletakkannya di depan rumahnya, dibiarkan keadaan seperti itu sampai beberapa lama. Kemudian Iblis datang lagi. Memuji-muji perbuatan si pendeta Yahudi dan menganjurkannya bahwa jika kamu mau mengajak bicara kepada si gadis, bercerita tentang apa saja yang bisa diceritakan, maka berarti kamu telah melakukan perbuatan yang bisa memikat hatinya.

Begitulah si pendeta Yahudi terus menerus berbicara kepada si gadis dari atas loteng tempat ibadahnya. Dan ceritanya benar-benar bisa menarik perhatian si gadis. Kemudian setelah itu iblis datang lagi dan berkata,

“Alangkah baiknya jika kamu turun dari loteng dan duduk di pintu tempat ibadahmu serta si gadis duduk di pintu rumahnya, mintahlah kepada si gadis untuk bercerita apa saja yang bisa diceritakan agar hatinya senang dan puas”.

Tidak henti-hentinya pendeta Yahudi tersebut turun dari loteng duduk di pintu tempat ibadahnya ngobrol dengan si gadis dan si gadispun akhirnya tidak malu-malu ngobrol bercerita apa saja dengan si pendeta Yahudi.

Selang beberapa hari Iblis datang lagi untuk menyenangkan kepada si pendeta Yahudi atas perbuatannya dengan diimingi-imingi bahwa pahalamu pasti besar seraya berkata, “Wahai pendeta Yahudi, alangkah baiknya jika kamu keluar dari pintu tempat ibadahmu dan mendekat ke pintu rumah si gadis sambil ngomong-ngomong dengan si gadis agar dia puas dan senang”.

Si pendeta Yahudi itu pun menuruti dan melakukan apa yang telah menjadi bisikan iblis kepadanya. Iblis datang lagi memuji-muji kebaikan si pendeta Yahudi dan menghias-hiasinya bahwa dia dapat pahala besar sambil berkata,”Wahai pendeta Yahudi, alangkah baiknya jika kamu mendekat lagi dan duduk di pintu rumah si gadis, si gadis tidak perlu keluar rumah, yang penting kamu bisa bercerita, ngobrol apa saja dengannya. Lagi-lagi pendeta Yahudi mau melakukan bisikan iblis tersebut sampai beberapa lama.

Melihat keadaan seperti itu, iblis tambah senang karena usaha yang dilakukannya mendekati berhasil. Dan ia pun datang lagi ke tempat pendeta Yahudi dan berkata,

“Wahai pendeta Yahudi, alangkah baiknya jika kamu masuk ke rumah si gadis bercerita apa saja sambil menikmati kecantikan wajahnya”.

Si pendeta Yahudi, ibarat onta yang sudah di keluh menuruti bisikan iblis, seharian di rumah si gadis, kalau datang waktu malam dia pun naik ke loteng untuk beribadah. Kemudian datang lagi si Iblis dan tidak henti-hentinya menghias-hiasi perbuatan pendeta Yahudi hingga si pendeta Yahudi memegang paha si gadis dan menciuminya.

Iblis semakin bersemangat menggodanya. Si gadis kelihatan semakin cantik di mata pendeta Yahudi dan si pendeta Yahudi juga kelihatan semakin gagah pada pandangan si gadis. Keadaan seperti itu berlangsung lama, kedua-duanya tidak bisa menahan (ngempet) lagi. Hingga pada akhirnya mereka berdua terjatuh pada perbuatan zina. Waktu demi waktu, hari berganti hari, minggu berganti minggu kedua insan berlain jenis itu terus melakukan perbuatan tercela yang di haramkan agama hingga prempuan itu hamil dan melahirkan seorang bayi laki-laki.

Iblis tidak berhenti mengganggu begitu saja, dia kembali datang ke tempat pendeta Yahudi dan berkata,

“Wahai pendeta Yahudi, bagaimana nanti kalau saudara gadis ini datang dari peperangan, kamu pasti tidak aman, kamu pasti dibuat malu oleh mereka, maka dari itu kamu supaya aman, bunuh saja bayi itu dan kuburlah dalam rumahmu, dia (si gadis) pasti menyimpan rahasia ini karena takut ketahuan telah punya anak tanpa menikah”.

Pendeta Yahudi belum sempat berfikir, iblis menambahkan bisikannya,

“Wahai pendeta Yahudi, apakah kamu yakin bahwa si gadis akan menyimpan rahasia ini dan tidak menceritakan kepada saudar-saudaranya? Oleh sebab itu bunuh saja sekalian gadis itu, kuburkan di dekat kuburan anaknya dan tutuplah dengan batu besar “.

Dalam benak pendeta Yahudi membenarkan perkataan iblis yang disampaikan kepadanya, kemudian ia melaksanakan apa yang telah menjadi bisikan iblis itu, setelah itu dia pun naik ke loteng untuk beribadah.

Beberapa hari kemudian, saudara-suadara gadis itu datang dari perang, kemudian pergi kerumah pendeta Yahudi dan menanyakan tentang saudara perempuan yang dititipkan kepadanya. Pendeta Yahudi menceritakan bahwa adiknya sudah mati, sambil menunjukkan tempat kuburannya. Tanpa menaruh rasa curiga, mereka bertiga pulang ke rumah keluarganya masing-masing.

Sudah menjadi janji Iblis untuk menyeret manusia ke neraka sebanyak-banyaknya. Bukan hanya pendeta Yahudi yang dipengaruhi, tetapi saudara-saudara gadis itu juga di pengaruhinya. Pada suatu malam dimana mereka sudah terlelap tidur, iblis datang dalam tidur mereka, dalam impian itu iblis beralih rupa sebagai seorang musyafir. Mulai datang kepada saudara laki-laki yang tertua kemudian pada saudara-suadaranya yang lain, menanyakan tentang keadaan saudara perempuannya, dijawab oleh saudara tertuanya bahwa saudara perempuannya sudah mati dan telah dikubur.

Dengan santai iblis memberi penjelasan kepada saudara tertua, dia berkata, “Keterangan pendeta Yahudi kepadamu itu bohong semua, sebenarnya saudara perempuanmu itu dizinai oleh pendeta Yahudi itu kemudian hamil dan melahirkan seorang bayi laki-laki, bayi dan ibunya disembelih, kemudian keduanya dikubur didekat pintu rumah sebelah kanan, karena takut pada kalian”.

Keesokan harinya, ketiga-tiganya berkumpul dan menceritakan impiannya masing-masing. Saudara laki-laki yang tertua berkata menghibur saudara-saudaranya,

“Sudahlah, ini hanya bunganya impian, ini impian yang tidak benar, tidak usah dipersoalkan”.

Saudara yang paling kecil ngotot ingin membuktikan impiannya. Dan akhirnya mereka bertiga datang kerumah Kiyai yang ada kuburan saudara perempuannya untuk membuktikan impiannya itu. Setelah sampai mereka bertiga membongkar kuburan adiknya. Dan ternyata apa yang dikatakan iblis dalam impiannya itu benar. Mereka menemukan bangaki saudara perempuan dan bayinya yang mati disembelih.

Mereka bertiga mendatangi pendeta Yahudi dan menceritakan apa yang baru saja mereka kerjakan. Pendeta Yahudi tidak bisa mengelak, dan mengakui semua perbuatannya itu dan membenarkan ucapan iblis.

65

Peristiwa tersebut dilaporkan kepada Raja. Dalam waktu yang singkat pendeta Yahudi itu ditangkap kemudian dibelenggu dan disalib diatas sebuah kayu oleh sang Raja.

Dalam keadaan seperti itu Iblis datang dan berkata, “Wahai pendeta Yahudi, kamu telah mengerti bahwa aku adalah temanmu yang telah menfitnahmu dan merusakmu dengan seorang perempuan hingga kamu menghamilinya dan kamu membunuhnya beserta anak yang dilahirkannya, maka jika kamu taat kepadaku hari ini dan kamu kufur kepada Alloh yang telah menciptakanmu dan telah membentukmu, niscaya aku selamatkan kamu dari siksa ini”.

Dibayang-bayangi ingin selamat dan ingin tetap hidup, akhirnya pendeta Yahudi mengikuti perkataan iblis sehingga ia menjadi orang yang kafir kepada Alloh. Setelah pendeta Yahudi kafir, dengan santai iblis meninggalkan pendeta Yahudi itu dan membiarkan si pendeta Yahudi disalib oleh sang Raja beserta kaumnya.

**********

Sumber Makalah CAI 1988

DALAM KITAB “TALBISUL IBLIS”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


“Menjadi Pondok Pesantren Yang berkemampuan global dalam dakwah Islam sehingga mendorong Umat Islam dan umat manusia pada umumnya memiliki kehidupan Yang sejahtera berbasis agama, kejujuran, amanah, hemat dan kerja keras, rukun,kompak serta dapat bekerjasama dengan baik”.