Kamis, 27 Januari 2011

Kisah Inspiratif: Suami berhati Tulus dan Sayang

Base on True Story..

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg
sudah senja bahkan sudah mendekati malam, pak Suyatno 58 tahun
kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit
istrinya juga sudah tua. mereka menikah sudah lebih 32 tahun

Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa,
setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh
dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun,
menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan
terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan
lagi.

Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran,
menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur.
Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV
supaya istrinya tidak merasa kesepian.

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat
istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak
begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk
menyuapi istrinya makan siang. sorenya dia pulang memandikan
istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani
istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia
alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa
menanggapi, pak suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu
menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun,
dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan
ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa
tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang
tua mereka sambil menjenguk ibunya.
Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan
keluarga masing2 dan pak suyatno memutuskan ibu mereka Dia yg
merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata
"Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil
melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar
dari bibir bapak. bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu".

dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya
"sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi,
kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati
masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak
tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu
bergantian".

Pak suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2
mereka.
"Anak2ku Jikalau hidup didunia ini hanya untuk nafsu Mungkin
bapak akan menikah, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian
disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah Melahirkan
kalian"
.. sejenak kerongkongannya tersekat, kalian yg selalu
kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak
satupun dapat menghargai dengan apapun. coba kalian tanya
ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini.
kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa
bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang".
kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan
dirawat oleh orang lain bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.
Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno merekapun melihat
butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu suyatno..dengan pilu

ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu..

Sampailah akhirnya pak suyatno diundang oleh salah satu
stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber diacara islami
Selepas shubuh dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada pak
suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat
Istrinya yg sudah tidak bisa apa2..disaat itulah meledak
tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum
perempuanpun tidak sanggup menahan haru disitulah pak suyatno
bercerita".

Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta tapi dia
tidak mencintai karena Tuhan semuanya akan luntur.
Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan
sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai
saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia
memberi saya 4 orang anak yg lucu2..

Sekarang dia sakit berkorban untuk saya karena Tuhan..dan itu
merupakan ujian bagi saya, sehatpun belum tentu saya mencari
penggantinya apalagi dia sakit,,,setiap malam saya bersujud
dan menangis dan saya dapat bercerita kepada Tuhan

Diatas sajadah..dan saya yakin hanya kepada Tuhan saya
percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya..

Kisah Inspiratif: Maafkanlah Aku Ibu....

Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apa pun yang
kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita
melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat
balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi
negatif atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa
keburukan pula. Kali ini izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman
pribadi yang terjadi pada 2003.

Pada September-Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah
sakit di Jakarta . Sudah tiga pekan para dokter belum mampu
mendeteksi penyakit yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan.
Panasnya sangat tinggi. Bahkan sudah satu pekan isteri saya telah
terbujur di ruang ICU. Sekujur tubuhnya ditempeli kabel-kabel yang
tersambung ke sebuah layar monitor.

Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya.
Dokter berkata, "Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu".

Saya pun menjawab "Mengapa dokter meminta izin saya? Bukankan setiap
pagi saya membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta
izin saya"

Dokter itu menjawab "Karena obat yang ini mahal Pak Jamil."

"Memang harganya berapa dok?" Tanya saya.

Dokter itu dengan mantap menjawab "Dua belas juta rupiah sekali
suntik."

"Haahh 12 juta rupiah Dok, lantas sehari berapa kali suntik, dok?"

Dokter itu menjawab, "Sehari tiga kali suntik pak Jamil."

Setelah menarik napas panjang saya berkata, "Berarti satu hari tiga
puluh enam juta, Dok?" Saat itu butiran air bening mengalir di pipi.
Dengan suara bergetar saya berkata, "Dokter tolong usahakan sekali
lagi mencari penyakit isteriku, sementara saya akan berdoa kepada
Yang Maha Kuasa agar penyakit istri saya segera ditemukan."

"Pak Jamil kami sudah berusaha semampu kami bahkan kami telah meminta
bantuan berbagai laboratorium dan penyakit istri Bapak tidak bisa
kami deteksi secara tepat, kami harus sangat hati-hati memberi obat
karena istri Bapak juga sedang hamil 8 bulan, baiklah kami akan coba
satu kali lagi tapi kalau tidak ditemukan kami harus mengganti
obatnya, Ppak." jawab dokter.

Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju mushola kecil dekat
ruang ICU. Saya melakukan sembahyang dan saya berdoa, "Ya Allah Ya
Tuhanku... aku mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba-
Mu, akupun mengerti bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti akan
Engkau balas dan akupun mengerti bahwa setiap keburukan yang pernah
aku lakukan juga akan Engkau balas. Ya Tuhanku... gerangan keburukan
apa yang pernah aku lakukan sehingga Engkau uji aku dengan sakit
isteriku yang berkepanjangan, tabunganku telah terkuras, tenaga dan
pikiranku begitu lelah. Berikan aku petunjuk Ya Tuhanku. Engkau Maha
Tahu bahkan Engkau mengetahui setiap guratan urat di leher nyamuk.
Dan Engkaupun mengetahui hal yang kecil dari itu. Aku pasrah kepada
Mu Ya Tuhanku. Sembuhkanlah istriku. Bagimu amat mudah menyembuhkan
istriku, semudah Engkau mengatur milyaran planet di jagat raya ini."

Ketika saya sedang berdoa itu tiba-tiba terbersit dalam ingatan akan
kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam
keluarga yang miskin papa. Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya
sekolah yang hanya Rp. 25 per bulan. Akhirnya saya memberanikan diri
mencuri uang ibu saya yang hanya Rp. 125. Saya ambil uang itu, Rp 75
saya gunakan untuk mebayar SPP, sisanya saya gunakan untuk jajan.

Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis sambil terbata
berkata, "Pokoknya yang ngambil uangku kualat... yang ngambil uangku
kualat..." Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh
ibuku. Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku
bahwa sayalah yang mengambil uang itu.

Usai berdoa saya merenung, "Jangan-jangan inilah hukum alam dan
ketentuan Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya
akan memperoleh keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah
penyakit isteri saya ini karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan
mengambil uang yang ia miliki itu."

Setelah menarik nafas panjang saya tekan nomor telepon rumah dimana
ibu saya ada di rumah menemani tiga buah hati saya. Setelah salam dan
menanyakan kondisi anak-anak di rumah, maka saya bertanya kepada ibu
saya "Bu, apakah ibu ingat ketika ibu kehilangan uang sebayak seratus
dua puluh lima rupiah beberapa puluh tahun yang lalu?"

"Sampai kapanpun ibu ingat Mil. Kualat yang ngambil duit itu Mil,
duit itu sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya tega-
teganya ada yang ngambil," jawab ibu saya dari balik telepon.
Mendengar jawaban itu saya menutup mata perlahan, butiran air mata
mengalir di pipi.

Sambil terbata saya berkata, "Ibu, maafkan saya... yang ngambil uang
itu saya, bu... saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf... saat
nanti ketemu saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama
ibu." Suasana hening sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik
telepon saya dengar ibu saya berkata: "Ya Tuhan, pernyataanku aku
cabut, yang ngambil uangku tidak kualat, aku maafkan dia. Ternyata
yang ngambil adalah anak laki-lakiku. Jamil kamu nggak usah pikirin
dan doakan saja isterimu agar cepat sembuh." Setelah memastikan bahwa
ibu saya telah memaafkan saya, maka saya akhiri percakapan dengan
memohon doa darinya.

Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter, setibanya di ruangan
sambil mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata "Selamat
pak, penyakit isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas. Ibu
telah kami obati dan panasnya telah turun, setelah ini kami akan
operasi untuk mengeluarkan bayi dari perut ibu." Bulu kuduk saya
merinding mendengarnya, sambil menjabat erat tangan sang dokter saya
berkata. "Terima kasih dokter, semoga Tuhan membalas semua kebaikan
dokter."

Saya meninggalkan ruangan dokter itu.... dengan berbisik pada diri
sendiri "Ibu, I miss you so much."

Dikutip dari Jamil Azzaini, Senior Trainer dan penulis buku Kubik
Leadership: Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup.

12 cara berkomunikasi yang baik

  1. Berbicaralah dengan jelas.
  2. Dengarkanlah apa yang diucapkan lawan bicaramu dan berikan respon yang baik. Pandanglah lawan bicaramu.
  3. Peliharalah kontak mata pada tingkatan yang sama-sama antara terus menatap dengan saling menghindari tatapan. Cobalah menangkap petunjuk-petunjuk tentang bagaimana yang leluasa bagi lawan bicaramu.
  4. Berupayalah semampumu untuk memahami apa maksud lawan bicaramu, kalau ada sesuatu yang tidak kamu pahami, tanyakanlah.
  5. Pekalah terhadap bahasa tubuh dan petunjuk-petunjuk lisan-punyamu maupun lawan bicaramu. Tampillah peka dan berminat. Amatilah tanda-tanda kalau lawan bicaramu kehilangann minat, ingin mengubah topiknya atau perlu mengakhiri percakapannya.
  6. Berikanlah umpan baik kalau diminta. Mintalah juga umpan balik.
  7. Berikanlah contoh-contoh untuk mendukung apa maksudmu.
  8. Berikanlah pendapatmu kalau diminta.
  9. Bergantianlah berbicara.
  10. Sesuaikanlah tingkat dan bahasa lawan bicaramu. Umpamanya, kamu tentu akan berbicara dengan cara yang berbeda kepada seorang anak daripada kepada seorang dewasa (gunakan kata-kata dan kalimat yang sederhana, bukan omongan bayi).
  11. Dengarkanlah permintaan lawan bicaramu (ini tidak selalu datang dalam bentuk pertanyaan atau pernyataan langsung).
  12. Gunakan intuisimu. Terkadang kata-kata tidak perlu dan kamu bisa berkomunikasi dengan perasaan, ekspresi, gerak-gerik.

Larangan yang perlu diingat

  1. Jangan terlalu ingin tahu
  2. Jangan bergosip
  3. Jangan menginterupsi
  4. Jangan mengganti topiknya.
  5. Jangan menentang atau mengoreksi apa yang dikatakan lawan bicaramu.
  6. Jangan sesumbar
  7. Jangan tertidur.

Syukur di Kala Meraih Sukses

Di kala impian belum terwujud, kita selalu banyak memohon dan terus bersabar menantinya. Namun, di kala impian tercapai, kadang kita melupakan Allah yang telah memberikan berbagai kenikmatan. Oleh karenanya, apa kiat kita ketika setelah mencapai hasil yang diidam-idamkan?

Akui Setiap Nikmat Berasal dari-Nya

Inilah yang harus diakui oleh setiap orang yang mendapatkan nikmat. Nikmat adalah segala apa yang diinginkan dan dicari-cari. Nikmat ini harus diakui bahwa semuanya berasal dari Allah Ta’ala dan jangan berlaku angkuh dengan menyatakan ini berasal dari usahanya semata atau ia memang pantas mendapatkannya. Coba kita renungkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.” (QS. Fushshilat: 49).

Inilah tabiat manusia, yang selalu tidak sabar jika ditimpa kebaikan atau kejelekan. Ia akan selalu berdoa pada Allah agar diberikan kekayaan, harta, anak keturunan, dan hal dunia lainnya yang ia cari-cari. Dirinya tidak bisa merasa puas dengan yang sedikit. Atau jika sudah diberi lebih pun, dirinya akan selalu menambah lebih. Ketika ia ditimpa malapetaka (sakit dan kefakiran), ia pun putus asa. Namun, lihatlah bagaimana jika ia mendapatkan nikmat setelah itu? Bagaimana jika ia diberi kekayaan dan kesehatan setelah itu? Ia pun lalai bersyukur kepada Allah, bahkan ia pun melampaui batas sampai menyatakan semua rahmat (sehat dan kekayaan) itu didapat karena ia memang pantas memperolehnya. Inilah yang diisyaratkan dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkat, ‘Ini adalah hakku.’”(QS. Fushshilat: 50).

Sifat orang beriman jika diberi suatu nikmat dan kesuksesan yang diidam-idamkan, ia pun bersyukur kepada Allah. Bahkan, ia pun khawatir jangan-jangan ini adalah istidraj (cobaan yang akan membuat ia semakin larut dalam kemaksiatan yang ia lakukan). Sedangkan, jika hamba tersebut tertimpa musibah pada harta dan anak keturunannya, ia pun bersabar dan berharap karunia Allah agar lepas dari kesulitan serta ia tidak berputus asa (lihat Taysir Al-Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, hal. 752, Muassasah Ar-Risalah, cetakan pertama, tahun 1420 H dan Tafsir Al-Jalalain, hal. 482, Maktabah Ash-Shafaa).

Ucapkanlah Tahmid

Inilah realisasi berikutnya dari syukur, yaitu menampakkan nikmat tersebut dengan ucapan tahmid (alhamdulillah) melalui lisan. Ini adalah sesuatu yang diperintahkan sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (QS. Adh-Dhuha: 11).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Membicarakan nikmat Allah termasuk syukur, sedangkan meninggalkannya merupakan perbuatan kufur.” (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam Shahih Al-Jaami’, no. 3014). Para ulama salaf ketika mereka merasakan nikmat Allah berupa kesehatan dan lainnya, lalu mereka ditanyakan, “Bagaimanakah keadaanmu di pagi ini?” Mereka pun menjawab, “Alhamdulillah (segala puji hanyalah bagi Allah).” (Lihat Mukhtashar Minhajil Qashidin, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, hal. 262, Darul Aqidah, cetakan pertama, tahun 1426 H).

Oleh karenanya, hendaklah seseorang memuji Allah dengan tahmid atas nikmat yang diberikan tersebut. Ia menyebut-nyebut nikmat ini karena memang terdapat masalahat dan bukan karena ingin berbangga diri atau sombong. Jika ia melakukannya dengan sombong, maka ini adalah hal yang tercela (Lihat Tafsir Juz ‘Amma, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, hal. 202, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, cetakan tahun 1424 H).

Memanfaatkan Nikmat dalam Amal Ketaatan

Yang namanya syukur bukan hanya berhenti pada dua hal tersebut, namun hendaklah ditambah dengan memanfaatkan kenikmatan tersebut dalam ketaaatan pada Allah dan menjauhi maksiat. Contohnya adalah jika Allah memberi nikmat dua mata. Hendaklah nikmat tersebut dimanfaatkan untuk membaca dan mentadaburi Al-Quran, jangan sampai digunakan untuk mencari-cari aib orang lain dan disebar di tengah-tengah kaum muslimin. Begitu pula nikmat kedua telinga. Hendaklah nikmat tersebut dimanfaatkan untuk mendengarkan lantunan ayat suci, jangan sampai digunakan untuk mendengar lantunan yang sia-sia.

Begitu pula jika seseorang diberi kesehatan badan, maka hendaklah ia memanfaatkannya untuk menjaga shalat lima waktu, bukan malah meninggalkannya. Jadi, jika nikmat yang diperoleh malah dimanfaatkan untuk maksiat, maka ini bukan dinyatakan sebagai syukur. Intinya, seseorang dinamakan bersyukur ketika ia memenuhi tiga rukun syukur: [1] mengakui nikmat tersebut secara batin (dalam hati), [2] membicarakan nikmat tersebut secara zhahir (dalam lisan), dan [3] menggunakan nikmat tersebut di jalan yang diridhai Allah (dengan anggota badan). Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah mengatakan, “Syukur haruslah dijalani dengan mengakui nikmat dalam hati, dalam lisan dan menggunakan nikmat tersebut dalam anggota badan.” (Majmu’ Al-Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 11/135, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H).

Merasa Puas dengan Rezeki yang Allah Beri

Karakter asal manusia adalah tidak puas dengan harta. Hal ini telah diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbagai haditsnya. Ibnu Az-Zubair pernah berkhutab di Makkah, lalu ia mengatakan, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya manusia diberi lembah penuh dengan emas, maka ia masih menginginkan lembah yang kedua semisal itu. Jika diberi lembah kedua, ia pun masih menginginkan lembah ketiga. Perut manusia tidaklah akan penuh melainkan dengan tanah. Allah tentu menerima taubat bagi siapa saja yang bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6438).

Inilah watak asal manusia. Sikap seorang hamba yang benar adalah selalu bersyukur dengan nikmat dan rezeki yang Allah beri walaupun sedikit. Karena, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al-Albani mengatakan, bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, no. 667).

Dan juga mesti kita yakini bahwa rezeki yang Allah beri adalah yang terbaik bagi kita. Seandainya Allah melebihkan atau mengurangi dari yang kita butuh, pasti kita akan melampaui batas dan bertindak kufur. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuraa: 27).

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Seandainya Allah memberi hamba tersebut rezeki lebih dari yang mereka butuh, tentu mereka akan melampaui batas, berlaku kurang ajar satu dan lainnya, serta akan bertingkah sombong.” Selanjutnya Ibnu Katsir menjelaskan, “Akan tetapi Allah memberi rezeki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang masalahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.” (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir, 12/278, Muassasah Qurthubah).

Patut diingat pula, bahwa nikmat itu adalah segala apa yang diinginkan seseorang. Namun, apakah nikmat dunia berupa harta dan lainnya adalah nikmat yang hakiki? Para ulama katakan, tidak demikian. Nikmat hakiki adalah kebahagiaan di negeri akhirat kelak. Tentu saja hal ini diperoleh dengan beramal sholih di dunia. Sedangkan nikmat dunia yang kita rasakan saat ini hanyalah nikmat sampingan semata. Semoga kita bisa benar-benar merenungkan hal ini (lihat Mukhtashar Minhajil Qashidin, hal. 266).

Jadilah Hamba yang Rajin Bersyukur

Pandai-pandailah mensyukuri nikmat Allah apa pun itu. Karena keutamaan orang yang bersyukur amat luar biasa. “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'” (QS. Ibrahim: 7)

Ya Allah, anugerahkanlah kami sebagai hamba -Mu yang pandai bersyukur pada-Mu dan selalu merasa cukup dengan segala apa yang engkau beri. Wallahu a'alam bisshawab.

Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, S.T
Simak artikel ini dan artikel menarik lainnya dalam Majalah Pengusaha Muslim Edisi Mei 2010

Renungan Tahun Baru

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan silih bergantinya bulan dan tahun, siang dan malam serta hari dengan penuh hikmah. Allah 'Azza wa Jalla menjadikan ada siang dan malam agar menjadi bendahara yang menyimpan amal-amal. Menjadi fase-fase berkembangnya setiap ajal. Menjadi lahan bagi setiap manusia untuk melakukan kebaikan maupun keburukan. Hal itu terus terjadi sampai usai dan habisnya ajal mereka.

Allah 'Azza wa Jalla juga menjadikan peredaran masa penuh dengan rahmat. Di antara rahmat-Nya ialah Dia 'Azza wa Jalla jadikan siang dan malam yang masing-masing memiliki tanda-tanda yang berbeda. Tanda-tanda siang ialah matahari sedangkan tanda-tanda malam ialah bulan. Dia 'Azza wa Jalla telah menjadikan malam agar manusia merasakan ketenangan di dalamnya, dan telah menjadikan siang terang benderang agar mereka bisa mendapatkan karunia dari-Nya 'Azza wa Jalla dan bisa mencari penghidupan di dalamnya. Dia Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan siang silih berganti sebagaimana kehidupan yang baru, sehingga setiap hamba akan memperbarui kekuatannya dan menyongsong amalan-amalannya. Oleh karenanya, Dia 'Azza wa Jalla menyebut tidur di waktu malam sebagai kematian sedangkan terjaga di waktu siang sebagai kebangkitan. Dia 'Azza wa Jalla berfirman,

وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُم بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُم بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَى أَجَلٌ مُّسَمًّى ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

"Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari. Kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan." (QS. al-An’am [6]: 60).

Dan di antara rahmat-Nya Subhanahu wa Ta’ala, Dia telah jadikan matahari dan bulan sebagai perhitungan. Pada matahari diketahui perhitungan musim, iklim dan cuaca, sedangkan pada bulan di malam hari diketahui perhitungan penanggalan bulan serta tahun [QS al-An’am [6]: 96]. Sehingga diketahuilah bahwa bilangan bulan dalam setahun ialah dua belas bulan [QS at Taubah [9]: 36].

Di antara kemudahan yang Allah berikan kepada manusia ialah Dia 'Azza wa Jalla telah menetapkan perhitungan penanggalan atas dasar bulan baru yang disebut hilal. Sebab ia merupakan tanda nyata yang nampak jelas dan bisa dipahami oleh seluruh manusia secara khusus maupun secara umum, yaitu dengan melihat hilal di saat Maghrib setelah terbenamnya matahari. Sehingga kapan saja hilal terlihat, maka berarti telah masuk bulan baru dan usailah bulan lalu. Dari sini pula diketahui bahwa awal perhitungan hari dihitung sejak terbenamnya matahari sebagaimana awalnya bulan.

Sekilas Sejarah Penanggalan Islam

Penanggalan Islam di mulai sejak zaman Amirul Mukminin Umar bin Khaththab radhiallahu 'anhu. Beliau kumpulkan enam belas atau tujuh belas pemuka sahabat dan bermusyawarah dengan mereka tentang kapan penanggalan Islam diawali. Sebagian mengatakan di awali saja sejak hari kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian lainnya mengatakan dimulai saja sejak diutusnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi Nabi dan Rasul. Sebagiannya lagi mengatakan dimulai saja sejak hijrahnya beliau ke Madinah. Dan sebagiannya lagi mengatakan dimulai saja sejak wafatnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Akhirnya, beliau radhiallahu 'anhu memilih dan menguatkan permulaan penanggalan Islam sejak hijrahnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah. Sebab, dengan hijrah ini Allah 'Azza wa Jalla membedakan antara yang haq dengan yang batil. Maka, sepakatlah para sahabat bahwa hari hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai awal penanggalan Islam. Sebab, tahun tersebut juga merupakan tahun terbentuknya umat Islam yang sesungguhnya yang akan memiliki masa depan gemilang. Tahun itu juga merupakan tahun pertama terbentuknya negeri Islam yang mutlak dikuasai oleh kaum muslimin.

Kemudian, para sahabat bermusyawarah lagi tentang pada bulan apa dimulainya tahun. Sebagian mereka mengatakan dimulai dari bulan Rabi’ul Awal, sebab ia merupakan bulan berhijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah. Sebagian lainnya mengatakan dari bulan Ramadhan, sebab ia merupakan bulan diturunkannya al-Qur’an. Namun, Umar bin Khaththab radhiallahu 'anhu bersepakat bersama Utsman bin Affan radhiallahu 'anhu dan Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu bahwa awal tahun dimulai dari bulan Muharram. Sebab, bulan Muharram merupakan bulan yang beriringan dengan bulan Dzulhijjah di mana pada bulan tersebut manusia menunaikan kewajiban terakhir dari rukun Islam, yaitu haji. Selain itu juga, bahwa Muharram beriringan dengan bulan dibaiatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh para sahabat untuk berhijrah. Sehingga bai’at tersebut merupakan permulaan hijrah, maka jadilah bulan Muharram yang lebih tepat untuk menjadi permulaan tahun.

Kemudahan yang Harus Disyukuri

Semuanya adalah kemudahan yang telah Allah 'Azza wa Jalla berikan kepada kita. Maka, kewajiban kita kaum muslimin ialah bersyukur atas nikmat kemudahan ini. Bersyukur atas nikmat perhitungan yang sederhana ini. Allah 'Azza wa Jalla telah menetapkan penanggalan harian dengan kemudahan dari-Nya diawali dengan terbenamnya matahari. Sedangkan penanggalan bulan dimulai dengan terbitnya hilal. Adapun penanggalan tahunan di awali dari tahun hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah sebagaimana yang telah dijalankan oleh kaum muslimin serta telah diperhitungkan oleh para ulama dalam kitab-kitab peninggalan mereka.

Bersyukur atas kemudahan perhitungan waktu tak henti-hentinya terus dilakukan. Sebagaimana waktu itu terus bergulir, maka syukur pun tak boleh berhenti tertinggal digilas waktu.

Sadari Agar Tidak Tertipu Waktu

Kita harus sadar dan tanggap akan waktu. Perhatikan hari-hari dan malam-malam berlalu. Sesungguhnya ia tidak berlalu melainkan sebagai jenjang-jenjang yang telah kita lalui menuju kampung yang sesungguhnya. Ialah kampung akhirat. Sampai suatu saat nanti perjalanan kita akan berakhir ke sana.

Setiap hari yang telah kita lalui, sesungguhnya makin menjauhkan kita dari dunia dan mendekatkan kita ke akhirat. Maka, berbahagialah orang yang sanggup memanfaatkan kesempatannya dengan sesuatu yang mendekatkan dirinya kepada Zat Yang Mahaperkasa 'Azza wa Jalla. Berbahagialah hamba yang tersibukkan dengan ketaatan dan menghindar dari setiap kemaksiatan. Berbahagialah setiap hamba yang menyadari setiap kejadian seiring perjalanan waktu berupa silih bergantinya peristiwa dan keadaan. Berbahagialah setiap hamba yang menjadikan setiap peristiwa dan keadaan yang dia dapati sebagai penunjuk jalan menuju pemahaman akan hikmah Allah 'Azza wa Jalla yang jelas serta seluruh rahasia-rahasia-Nya. Dia 'Azza wa Jalla berfirman,

يُقَلِّبُ اللَّهُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لِّأُوْلِي الْأَبْصَارِ

"Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan." (QS. an-Nur [24]: 44)

Perhatikanlah matahari. Bagaimana setiap hari dia terbit dari timur dan terbenam di tempat terbenamnya di arah barat. Sungguh pada terbit dan terbenamnya matahari terdapat pelajaran yang sangat hebat. Terbit dan terbenamnya matahari merupakan tanda bahwa dunia bukanlah kampung kekekalan. Ia hanya terbit dan terbenam lalu menghilang begitu saja.

Perhatikanlah bulan-bulan yang telah berlalu. Berapa kali hilal telah mengiringinya dari berbentuk kecil sebagaimana anak kecil yang dilahirkan, lalu tumbuh berkembang sedikit-demi sedikit sebagaimana tumbuhnya badan. Sehingga apabila telah sempurna pertumbuhannya, mulailah ia berkurang dan melemah. Demikianlah usia kita sebagai manusia pun sama halnya. Maka ambillah ini sebagai pelajaran.

Perhatikanlah tahun-tahun yang telah berlalu. Bagaimana ia silih berganti. Bila tahun lalu telah usai, maka tahun baru pun menyusulnya. Perhatikanlah bagaimana manusia—juga termasuk kita, apabila memasuki tahun baru, kita menatap akhir tahun sangat jauh di ujung sana, namun ternyata hari-hari berlalu dengan sangat cepatnya. Tahun pun akan segera bergulir dengan cepat secepat kedipan mata. Tak disadari ternyata kita telah berada di hari-hari terakhir tahun pada tahun tertentu.

Maka demikianlah usia kita sebagai manusia. Kita merasa usia kita masih terlalu panjang, namun tak kita sadari kita telah berada di depan pintu gerbang kematian. Boleh jadi seseorang berangan-angan dengan usianya yang panjang, sehingga ia bersantai-santai dengan berbagai angan-angan dan cita-citanya itu. Namun tiba-tiba saja ia telah berada di ujung tali angan-angan, sementara bangunan cita-cita telah runtuh. Sebabnya ialah kematian. Allah 'Azza wa Jalla berfirman,

وَجَاءتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ

"Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya." (QS. Qaf [50]: 19)

Di Ujung Tahun

Kita sekarang tengah berada di ujung tahun yang telah menjadi saksi atas kita. Kita sedang menyongsong tahun baru. Apalah kiranya yang hendak kita tinggalkan di tahun yang kan berlalu? Dan dengan apa pula kiranya kita hendak menyongsong tahun baru yang kan datang menjelang? Allah 'Azza wa Jalla berfirman,

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاء وَالْقَمَرَ نُوراً وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُواْ عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللّهُ ذَلِكَ إِلاَّ بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
إِنَّ فِي اخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَّقُونَ

"Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya. Dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang Mengetahui. Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang- orang yang bertakwa." (QS. Yunus [10]: 5-6)

Dari sini, hendaknya setiap orang yang berakal segera muhasabah, introspeksi diri. Perhatikan apa yang telah ditinggalkannya di tahun yang kan berlalu ini. Apabila ia telah menyia-nyiakan beberapa kewajibannya terhadap Allah 'Azza wa Jalla, segeralah bertaubat kepada–Nya 'Azza wa Jalla. Segeralah untuk berusaha mengejar dan mendapatkan sesuatu yang tersia-siakan tadi. Apabila ternyata ia menzhalimi diri sendiri dengan berbagai maksiat dan hal-hal yang haram, segeralah meninggalkannya sebelum datang saat malaikat maut menjemput. Dan apabila ia termasuk orang-orang yang dianugerahi Allah 'Azza wa Jalla istiqamah, hendaknya ia banyak memuji-Nya atas karunia-Nya dan hendaknya dia memohon keteguhan sampai mati.

Maka demikianlah. Tahun yang berlalu tidak sekadar sebagai kenangan. Tahun baru yang kan tiba bukan untuk disambut dengan perayaan. Namun berlalunya tahun lama mengingatkan kita akan apa yang telah kita tinggalkan, sedangkan tahun baru disambut dengan iman, dengan taubat dan istighfar, lalu istiqomah di atas jalan keridhaan Allah 'Azza wa Jalla.

Iman bukanlah sekadar angan-angan kosong. Iman juga bukan sekadar hiasan bibir. Taubat pun bukan sekadar ucapan lisan tanpa usaha membersihkan diri. Iman itu ialah sesuatu yang tertanam di dalam hati dan dibuktikan oleh amalan. Sedangkan taubat ialah penyesalan atas apa yang telah berlalu dari berbagai kekurangan. Taubat ialah segera menjauhi dan meninggalkan dosa-dosa. Taubat ialah kembali kepada Allah 'Azza wa Jalla dengan usaha memperbaiki amalan. Taubat ialah rasa senantiasa diawasi oleh Allah 'Azza wa Jalla Zat Yang Maha Mengetahui seluruh keghaiban. Itulah taubat. Selagi masih ada waktu dan terbentang kesempatan, maka apalagi yang menghalangi untuk segera bertaubat?

Nasihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Berbagai potensi kebaikan telah dikaruniakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita. Masa muda, keadaan sehat wal afiyat, hidup berkecukupan, terbentangnya waktu dan kesempatan serta masa-masa dalam kehidupan adalah sebesar-besar potensi kebaikan. Di masa muda terdapat kekuatan dan keteguhan. Apabila seseorang telah lanjut usia, melemahlah kekuatannya dan lunturlah keteguhannya. Dalam kesehatan terdapat semangat dan kerajinan. Apabila seseorang sakit, mengendurlah semangatnya dan melemahlah kerajinannya, sehingga sempitlah jiwanya, beratlah rasanya untuk beraktivitas dan beramal.

Dalam kecukupan terdapat kelonggaran. Apabila seseorang telah ditimpa kemiskinan, ia akan disibukkan dengan kegiatan mencari penghidupan untuk diri dan tanggungannya. Adapun dalam kehidupan terdapat lapangan yang sangat luas untuk melakukan seluruh amalan shalih. Apabila seseorang telah mati, terputuslah kesempatannya beramal. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala menasihati seorang sahabat, beliau bersabda,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Mengaislah kebaikan pada lima keadaan sebelum datang lima keadaan: pada masa mudamu sebelum datang masa tuamu, pada masa sehatmu sebelum datang sakitmu, pada masa cukupmu sebelum datang kefakiranmu, pada kesempatanmu sebelum datang kesibukanmu, dan pada hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Hakim 7846, beliau mengatakan: “Hadits ini shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim, namun beliau berdua tidak meriwayatkannya.” Dishahihkan juga oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 3355)

Oleh karenanya, hendaklah diperhatikan umur usia kita. Hendaklah ditimbang-timbang antara yang tersisa dan yang telah berlalu. Sesungguhnya yang akan datang itu sangat cepat kehadirannya, sedangkan yang telah berlalu tak lagi sanggup kita menggapainya. Sementara apa yang ada sekarang ini mungkin saja dan pasti akan sirna sesaat atau dua saat waktu yang tak tertentu. Yang demikian itu agar kita bersegera beramal shalih sebelum sesuatu yang sekarang ada ini akan sirna dan tak tersisa.

Wallahul muwaffiq.

*Nasihat ini diramu penulis dari dua khutbah Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullahu ta’ala dalam adh-Dhiya’ul Lami’ minal Khithobil Jawami’.

Penulis: Ustadz Abu Ammar Al-Ghoyami
Artikel www.PengusahaMuslim.com


“Menjadi Pondok Pesantren Yang berkemampuan global dalam dakwah Islam sehingga mendorong Umat Islam dan umat manusia pada umumnya memiliki kehidupan Yang sejahtera berbasis agama, kejujuran, amanah, hemat dan kerja keras, rukun,kompak serta dapat bekerjasama dengan baik”.