Kamis, 09 Januari 2014
KEUTAMAAN MENGERJAKAN SHOLAT DHUHA , PEMBUKA PINTU REZEKI
Jumat, 27 Desember 2013
Upaya Menjadi Muballigh yang Berkualitas
- Selalu berusaha meningkatkan ilmunya. Mencari ilmu tidak ada batasnya sebagaimana ungkapan dalam bahasa Arab: اطْلُبُوا الْعِلْمَ مِنَ اْلـمَهْدِ إِلَى اللَّحْد Carilah ilmu mulai dari lahir sampai mati . Dalam mengaji tentu tidak hanya sebatas khatam saja namun lebih dari itu, ilmu yang telah diterima bisa difahami dan dihayati. Maka ketika mengaji harus selalu berusaha untuk serius dan memperhatikan apa yang disampaikan oleh gurunya, telaten mencatat makna dan keterangan serta contoh-contohnya.
- Rajin nderes ilmu yang telah dimanqulkan..Nderes Qur`an Hadits adalah merupakan cara efektif agar ilmu yang telah diperolehnya selalu diingat dan difahami. Nderes ibarat mengasah pisau, pisau kalau diasah terus-menerus maka akan semakin tajam. Demikian juga apabila muballigh sering nderes ilmunya maka akan semakin bisa memahami isi Qur`an Hadits dan tidak mudah terlupakan.
- Tawadlu’ dan tidak sombong. Semakin banyak ilmu yang dimiliki, seorang muballigh seharusnya semakin tawadlu’/andhap asor, tetap istiqomah, sambung jama’ahnya tertib, bisa menjadi suri tauladan bagi jama’ah, bisa ta’dhim kepada yang berhak dita’dhimi, tidak meremehkan dan tidak sombong. Jangan sampai terjadi seorang muballigh yang menguasai Al-Qur`an 30 juz dan hadits kutubussittah akan tetapi jarang sambung, bila datang mengaji yang dikaji kitab himpunan ia tidak memperhatikan, ngomong sendiri bahkan pulang lebih dahulu karena merasa lebih pol ilmunya, meremehkan ijtihad keimaman seperti dilarang membaca buku karangan yang bisa mempengaruhi dan mengubah kefahaman, tetapi tetap membaca bahkan membeli dengan alasan untuk menambah wawasan keilmuannya. Berarti meskipun ia seorang muballigh tidak bisa mengamalkan ilmunya karena meremehkan ijtihad keimaman.
- Meningkatkan taqarrub Ilallah. Sebagai Muballigh agar terjaga keilmuannya dan bisa konsisten mengamalkan Qur`an Hadits supaya lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan cara seperti; memperbanyak do’a, membaca Al-Qur’an, banyak dzikir, shalat malam, bergaul dengan orang shalih sehingga terhindar dari pelanggaran dan kemaksiatan.
Doa, Pintu Gerbang Keberhasilan
Jumat, 29 Maret 2013
JANJI UNTUK IBU TERSAYANG
SUDAHKAH BERSYUKUR AKU HARI INI ???
Bahaya Facebook
Minggu, 03 Maret 2013
MAAF...SANTRI BARU SUDAH PENUH
Kata itulah yang disampiakan para petugas pendaftar santri baru Pondok Pesantren Gadingmangu, hanya dalam hitugan jam kuota santri baru telah terpenuhi. Hari Sabtu, 2 Maret 2013, jam 8.00 penerimaan santri baru , dibuka dan hari itu juga ditutup karena sudah penuh, semua pimpinan dan segenap pengurus hanya bisa minta maaf karena kamar yang tersedia suda penuh. WALAUPUN PONDOK SUDAH PENUH, NAMUN PARA SANTRI BISA BERTEMPAT DI SEKITAR PONDOK YANG MEMILIKI STIKER TERIMA KOST PUTRA ATAU TERIMA KOST PUTRI. KEGIATAN MENGIKUTI KURIKULUM PONDOK, HANYA TEMPAT TINGGALNYA DI LUAR PONDOK. BANYAK TEMPAT DISEDIAKAN OLEH TIM KOST.
Animo masyarakat untuk menjadikan putra - putrinya sebagai mubalighin sangat luar biasa, apalagi sekaligus bisa bersekolah di SMA Budi Utomo yang telah bertatus TERAKREDITASI A.
Senin, 18 Februari 2013
KUNJUNGAN ULAMA JOGJA
Mutiara Rumah Tangga(Nasehat Perkawinan)
ومن أياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لت
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. [QS. Ar-Rum ayat 21]
Senin, 04 Februari 2013
NGAJI SAK JAGAD
Kamis, 24 Februari 2011
Kisah Inspiratif: Ashabul Uhdud
| A |
lkisah tersebutlah seorang Raja kafir yang menganggap dirinya tuhan yang harus disembah oleh seluruh manusia. Siapapun yang tidak mau menyembahnya akan dihukum berat. Sang raja selalu didampingi seorang tukang sihir tua dan seorang patih yang gagah berani.
Suatu hari tukang sihir berkata kepada raja, “Paduka…Usia hamba sudah sangat tua dan tidak lama lagi hamba akan mati. Mohon Paduka mencari seorang pemuda yang cerdas untuk hamba warisi semua ilmu sihir yang hamba miliki.”
Permohonan tukang sihir dikabulkan oleh raja. Seluruh prajurit kerajaan dikerahkan untuk mencari pemuda seperti apa yang diinginkan oleh tukang sihir. Beberapa hari kemudian ditemukanlah Ghulam, seorang bocah dibawah umur yang diketahui memiliki otak cemerlang. Setelah memohon izin pada orang tuanya, Ghulam berangkat ke istana dan mulai belajar ilmu-ilmu sihir. Setelah seharian belajar, sore harinya Ghulam diperbolehkan pulang ke rumah orangtuanya. Namun keesokan harinya Ghulam harus sudah kembali ke istana. Berkat kecerdasan dan ketekunannya, dalam waktu singkat Ghulam sudah menguasai hampir seluruh ilmu yang dimiliki tukang sihir.
Pada suatu hari ketika Ghulam berangkat ke istana, ditengah perjalanan ia bertemu seorang kyai.
“Hai bocah kecil, hendak kemana kau sendirian pagi-pagi begini” tanya pak Kyai kepada Ghulam
Ghulam bercerita dari awal ia bertemu prajurit kerajaan sampai berguru kepada tukang sihir kerajaan. Pak Kyai tersenyum mendengar penuturan bocah cilik yang lugu itu.
“Wahai bocah, ilmu yang kau pelajari selama ini adalah sihir. Belajar ilmu sihir adalah suatu perbuatan yang sangat dimurkai oleh Alloh tuhan yang menciptakan seluruh jagad raya beserta isinya…..”
Penjelasan Pak Kyai tentang ketuhanan membuat Ghulam semakin tertarik dan ingin mengetahui lebih jauh lagi.
“Pak Kyai, bolehkah aku menjadi muridmu” Bimbinglah aku agar tidak salah jalan…”
“Tentu saja boleh. Tapi bagaiman dengan latihanmu di istana?”
“Sudahkah Pak Kyai mengijinkan aku untuk tetap latihan di istana agar Raja dan guruku tidak curiga?”
“Baiklah. Kalau begitu datanglah kau kesini pagi hari sebelum latihan dan sore hari setelah latihan di istana”
“Terimakasih Pak Kyai, mulai besok pagi engkau menjadi guruku”
Pertemuan antara Ghulam dengan Pak Kyai membuat Ghulam selalu terlambat datang ke istana dan terlambat pulang ke rumah. Ia tak bisa mengelak dari hukuman tukang sihir atas keterlambatannya, demikian juga hukuman dari orangtuanya. Keadaan ini diceritakan kepada Pak Kyai.
“Aku bisa mengerti kegaluan hatimu, Nak. Demi kebaikan semua, jika kau terlambat datang ke istana buatlah alasan bahwa di rumah banyak pekerjaan, sedangkan kalau kau terlambar pulang, jelaskan kepada orang tuamu bahwa banyak sekali ilmu-ilmu yang harus dipelajari di istana.”
Waktu terus berjalan, Ghulam semakin banyak menguasai ilmu-ilmu sihir. Hingga pada suatu sore ketika Ghulam pulang dari istana, terjadi keributan di tengah kota. Seekor harimau sedang mengamuk. Ia mulai menyusup diantara warga yang sedang panik, hingga akhirnya ia berhadapan langsung dengan binatang buas itu. Binatang itu mengambil ancang-ancang akan menyerang Ghulam. Ghulam mengambil sebuah batu, lalu berdoa…..
“Ya Alloh….kalau memang ilmu Pak Kyai yang Engkau ridhoi daripada ilmu tukang sihir, maka matikanlah binatang ini….”
Ghulam melempar batu tepat mengenai kepala binatang itu hingga menggelepar dan akhirnya mati. Penduduk kota yang memperhatikan tingkah laku Ghulam langsung keluar dari persembunyiannya dan bersorak sorai mengelu-elukan Ghulam. Namun Ghulam tidak memperdulikan, ia terus berjalan meninggalkan tempat tersebut. Setibanya di rumah Pak Kyai, Ghulam menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya. Setelah selesai mendengar cerita Ghulam Pak Kyai berkata….
“Anakku, ternyata kau lebih hebat daripada aku. Kau sendiri telah membuktikan bahwa segala sesuatu yang benar pasti dimenangkan oleh Alloh dan segala sesuatu yang bathal pasti akan dihancurkan oleh Alloh. Ketahuilah nak, menetapi kebenaran pasti ada cobaan. Jika suatu saat kau dipanggil oleh Raja, jangan katakan kalau kau mendapat pelajaran dariku”
Sejak saat itu Ghulam semakin yakin atas kebenaran ilmu yang diajarkan Pak Kyai, bahwa tiada daya dan kekuatan di muka bumi ini melainkan hanyalah milik Alloh, tuhan semesta alam. Sementara itu seluruh pelosok negeri telah tahu bahwa Ghulam adalah si bocah sakti, ia bisa mengobati segala macam penyakit.
Pada suatu hari datanglah Patih raja ke rumah Ghulam Ia terserang penyakit yang ganas sehingga kedua matanya menjadi buta. “Wahai Ghulam, jika kau bisa menyembuhkan sakitku sehingga kedua mataku kembali dapat melihat, akan kuberi kau hadiah yang sangat besar. Apapun yang kau minta akan kukabulkan…”
“Sebenarnya aku tidak bisa menyembuhkan sakit apapun. Yang mendatangkan sakit adalah Alloh, maka yang dapat menyembuhkan pun hanyalah Alloh. Jika tuan Patih mau beriman kepada Alloh, aku akan memohon kepada Alloh agar Dia menyembuhkan sakitmu”
Setelah mendengar banyak nasehat dari Ghulam, akhirnya sang Patih menyatakan dirinya beriman kepada Alloh, lalu Ghulam berdoa untuk kesembuhan Patih. Secara samar-samar Patih mulai melihat sekililingnya hingga akhirnya pandangannya menjadi jelas. Patih pulang ke istana untuk kembali menjalankan tugas mendampingi sang Raja. Sesampainya di istana, Raja terkejut melihat patih…
“Paman Patih. Kau sudah sembuh?! Siapa yang menyembuhkanmu?”
“Ampun paduka… Yang menyembuhkan sakitku adalah tuhanku dan tuhan paduka, yaitu Alloh…”
“Apa katamu?! Bukankah aku adalah tuhanmu?! Akulah yang pantas disembah oleh semua manusia dimuka bumi !”
Tanpa ampun lagi, Raja memerintahkan pengawalnya untuk menghukum paman Patih dengan hukuman yang berat.
“Hai Patih! Siapa yang telah mengajarimu untuk mengkhianati Rajamu!”
“Paduka…Ghulam yang telah mengajariku. Tetapi kumohon ampunilah dia. Dia masih terlalu kecil untuk mendapatkan hukuman, biar aku saja yang menanggung semua kemarahan paduka…”.
AKHIRNYA Ghulam dipanggil menghadap Raja. Sang Raja tidak marah kepada Ghulam, karena ia tahu bahwa Ghulam adalah calon pengganti tukang sihir kerajaan.
“Wahai anakku, tak kusangka kau menjadi seorang bocah yang luar biasa. Kau dapat menyembuhkan sakit yang diderita patihku. Ilmu sihir yang kau miliki, lebih hebat daripada ilmu sihir gurumu….”
“Paduka jangan salah. Sebenarnya hamba tidak dapat menyembuhkan sakit apapun. Yang mendatangkan sakit adalah Alloh, maka yang dapat menyembuhkan pun hanyalah Alloh. Alloh adalah tuhan hamba dan tuhan Paduka. Dialah tuhan yang pantas disembah oleh manusia di muka bumi. Dialah tuhannya alam semesta ini….”
Seketika itu muka Raja menjadi merah, hatinya geram menahan amarah. Ghulam pun mendapatakan hukuman yang setimpal. Ia dipaksa mengaku, siapa orang yang telah menanamkan keyakinan itu kepadanya. Namun Ghulam teringat akan pesan Pak Kyai, sehingga ia tidak mau mengaku. Hukuman makin ditingkatkan. Ghulam tidak tahan dengan beratnya hukuman itu, akhirnya ia mengaku bahwa gurunya adalah Pak Kyai. Tak lama kemudian Pak Kyai sudah dibawah ke istana.
“Pak Kyai! Kembalillah kau pada agama nenek moyangmu! Akuilah aku sebagai tuhan!”
“Maaf paduka. Permintaan paduka tidak bisa hamba kabulkan.”
“Pengawal…! Hukum dia!”
Masuklah seorang algojo dengan geraji ditangannya. Geraji diletakkan tepat di belahan kepala pak Kyai, namun pak Kyai tidak sedikitpun merasa takut. Pak Kyai yakin bahwa sebentar lagi ia akan mendapatkan balasan atas keteguhan imannya. Tubuh Pak Kyai sedikit demi sedikit terbelah menjadi dua. Ia telah gugur sebagai pejuang yang menegakkan Agama Alloh.
“Patih! Kini giliranmu! Apa kau juga akan mengikuti jalan kyai bodoh itu!” teriak sang Raja.
“Paduka ….Lebih baik aku mati daripada dipaksa menentang Alloh tuhanku”
Akhirnya sang Patih mengalami nasib yang sama seperti Pak Kyai, tubuhnya terbelah menjadi dua bagian. Tinggallah Ghulam seorang diri yang beriman kepada Alloh. Tiba-tiba Raja berteriak memanggilnya
“Ghulam! Kau tahu, kedua temanmu telah mati. Kau tidak seperti mereka bukan? Bagaimana? Kau mau meninggalkan tuhanmu dan kembali ke agama nenek moyangmu?”
Tentu saja Ghulam menolak tawaran Raja. Namun kali Raja tidak bisa berbuat banyak kepada Ghulam. (“Anak ini masih terlalu kecil untuk menerima kematian seperti kyai dan Patih. Akan kubuat siasat saja….”)
“Ghulam …. Sekarang kau boleh tunggu di luar. Pengawal….! Ajaklah anak itu naik gunung, tanyalah ia apa mau kembali ke agama nenek moyangnya, jika tidak mau, setelah sampai puncak gunung doronglah die ke jurang…”
Berangkatlah para pengawal raja bersama Ghulam menuju puncak gunung. Ghulam tahu bahwa ini adalah rencana pembuhunah dirinya. Maka berdoalah ia, Ya Alloh…Cukupillah aku dari kejelekan mereka dengan apa-apa yang Kau kehendaki….
Saat itu tiba-tiba terjadi gempa bumi, longsorlah gunung yang akan didaki itu menimpa para pengawal raja, mereka semua tewas. Ghulam diselamatkan Alloh, tubuhnya tidak tergores sedikitpun lalu ia kembali ke istana. Bukan main kagetnya sang raja demi melihat Ghulam pulang dalam keadaan selamat.
“Hai bocah! Mengapa kau masih disini?! Mana para pengawalku?!
“Mereka mati dibunuh Tuhanku…”
Raja kembali mengutus pengawalnya untuk membawa Ghulam berlayar dengan maksud akan melempar Ghulam ke tengah lautan. Ditengah perjalanan Ghulam kembali berdoa agar Alloh menyelamatkan dan merusak kepada orang-orang yang berniat jelek kepadanya. Tiba-tiba datang ombak besar, perahu yang mereka tumpangi terbalik dan pecah, semua mati tertelan ombak kecuali Ghulam yang selamat kembali ke istana. Raja kembali dikejutkan dengan kedatangan Ghulam.
“Ghulam …! Kau kembali?! Mana yang lain?!
“Mereka ditenggelamkan Alloh di tengah lautan. Paduka…Engkau tidak akan dapat membunuhku, karena Alloh belum menghendaki aku mati. Jika Paduka ingin membunuhku, patuhilah syarat-syarat yang kuajukan”.
“Katakan apa syarat itu !”
“Kumpulkan seluruh rakyat di alun-alun, tanpa kecuali. Ikatlah aku di pohon kurma, lalu panahlah aku. Sebelum Paduka melepaskan anak panah, Paduka haru berteriak keras …BISMILLAHI ROBBIL GHULAM (Dengan menyebut nama Alloh, tuhannya Ghulam )
Hari itu alun-alun sudah penuh warga yang berkumpul sejak pagi, mulai bayi, remaja, pria, wanita sampai kakek nenek. Ghulam sudah terikat pohon kurma. Busur dan anak panah sudah ada di genggaman sang Raja. Sang Raja mendatangi para menterinya satu per satu lalu berkata…..
“Firasatku mengatakan, akan terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan. Tetapi apapun yang terjadi, bocah itu harus mati?”
Para menteri kerajaan hanya terpaku memikirkan apa maksud perkataan raja seperti itu. Raja mulai menarik busur dan anak panah, lalu diarahkan ke tubuh Ghulam. Raja berteriak…. BISMILLAHI ROBBIL GHULAM….(Dengan menyebut nama Alloh, tuhannya Ghulam) Anak panah melesat mengenai pelipis Ghulam. Seketika itu Ghulam meninggal dunia sebagai pejuang agama Alloh. MATI SYAHID!
Begitu melihat Ghulam terbunuh, rakyat yang sejak tadi terpaku tiba-tiba menjadi bergemuruh. Mereka menyatakan beriman kepada Alloh…KAMI BERIMAN KEPADA TUHANNYA GHULAM!... KAMI BERIMAN KEPADA TUHANNYA GHULAM!... KAMI BERIMAN KEPADA TUHANNYA GHULAM!...
Raja yang kegirangan melihat Ghulam telah mati kini berubah menjadi panik. Para menteri kerajaan dikumpulkan untuk bersidang.
“Wahai Paduka…Ternyata firasat paduka benar. Hampir seluruh rakyat negeri ini meninggalkan paduka. Mereka beriman kepada Tuhannya Ghulam. Sekarang apa yang harus kita lakukan ?”
“Galilah lubang yang besar dan dalam pada setiap perempatan jalan, lalu nyalakan api di dalamnya. Bagi siapa yang tidak mau kembali ke agama kita, lemparkan ke dalamnya”.
Perintah pun dilaksanakan. Sudah puluhan rakyat yang di lemparkan ke dalam lubang api karena mereka mempertahankan keimanannya kepada Alloh. Hingga tiba giliran seorang ibu yang menggendong bayinya. Sang ibu memandang bayinya….
“Nak…Kalau ibu melompat bagaimana denganmu?” Tiba-tiba bayi dalam gendongan itu berbicara….
“Ayo ibu………. Melompatlah……… Sesungguhnya engkau dalam mempertahankan kebenaran….”
Langsung sang ibu melompat bersama bayinya. Mereka yang telah terjun kedalam lubang itu berprinsip Lebih baik mati daripada hidup dipaksa kafir kepada Alloh. Lebih baik masuk lubang api di dunia daripada dibakar api neraka di akhirot.
API yang membara di lubang-lubang itu ternyata kian membesar dan sulit di padamkan, hingga merembet ke perumahan penduduk yang akhirnya menyambar istana raja. Raja beserta seluruh pengikutnya mati terbakar.
************
Sumber HR “Shohih Muslim”
Rabu, 23 Februari 2011
Cinta Sepanjang Masa

Ia adalah wanita yang terus hidup dalam hati suaminya sampaipun ia telah meninggal dunia. Tahun-tahun yang terus berganti tidak dapat mengikis kecintaan sang suami padanya. Panjangnya masa tidak dapat menghapus kenangan bersamanya di hati sang suami. Bahkan sang suami terus mengenangnya dan bertutur tentang andilnya dalam ujian, kesulitan dan musibah yang dihadapi. Sang suami terus mencintainya dengan kecintaan yang mendatangkan rasa cemburu dari istri yang lain, yang dinikahi sepeninggalnya. (Mazin bin Abdul Karim Al Farih dalam kitabnya Al Usratu bilaa Masyaakil)
Suatu hari istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain (yakni ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha) berkata, “Aku tidak pernah cemburu kepada seorang pun dari istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti cemburuku pada Khadijah, padahal aku tidak pernah melihatnya, akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menyebutnya.” (HR. Bukhari)
Ya, dialah Khadijah bintu Khuwailid bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza bin Qushai. Dialah wanita yang pertama kali dinikahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bersamanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membina rumah tangga harmonis yang terbimbing dengan wahyu di Makkah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menikah dengan wanita lain sehingga dia meninggal dunia.
Saat menikah, Khadijah radhiyallahu ‘anha berusia 40 tahun sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berusia 25 tahun. Saat itu ia merupakan wanita yang paling terpandang, cantik dan sekaligus kaya. Ia menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tak lain karena mulianya sifat beliau, karena tingginya kecerdasan dan indahnya kejujuran beliau. Padahal saat itu sudah banyak para pemuka dan pemimpin kaum yang hendak menikahinya.
Ia adalah wanita terbaik sepanjang masa. Ia selalu memberi semangat dan keleluasaan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mencari kebenaran. Ia sendiri yang menyiapkan bekal untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau menyendiri dan beribadah di gua Hira’. Seorang pun tidak akan lupa perkataannya yang masyhur yang menjadikan Nabi merasakan tenang setelah terguncang dan merasa bahagia setelah bersedih hati ketika turun wahyu pada kali yang pertama, “Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Karena sungguh engkau suka menyambung silaturahmi, menanggung kebutuhan orang yang lemah, menutup kebutuhan orang yang tidak punya, menjamu dan memuliakan tamu dan engkau menolong setiap upaya menegakkan kebenaran.” (HR. Muttafaqun ‘alaih) (Mazin bin Abdul Karim Al Farih dalam kitabnya Al Usratu bilaa Masyaakil)
Pun, saat suaminya menerima wahyu yang kedua berisi perintah untuk mulai berjuang mendakwahkan agama Allah dan mengajak pada tauhid, ia adalah wanita pertama yang percaya bahwa suaminya adalah utusan Allah dan kemudian menyatakan keislamannya tanpa ragu-ragu dan bimbang sedikit pun juga.
Khadijah termasuk salah satu nikmat yang Allah anugerahkan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia mendampingi beliau selama seperempat abad, menyayangi beliau di kala resah, melindungi beliau pada saat-saat yang kritis, menolong beliau dalam menyebarkan risalah, mendampingi beliau dalam menjalankan jihad yang berat, juga rela menyerahkan diri dan hartanya pada beliau. (Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfury di dalam Sirah Nabawiyah)
Suatu kali ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau menyebut-nyebut Khadijah, “Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita lain selain Khadijah?!” Maka beliau berkata kepada ‘Aisyah, “Khadijah itu begini dan begini.” (HR. Bukhari)
Dalam riwayat Ahmad pada Musnad-nya disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “begini dan begini” adalah sabda beliau, “Ia beriman kepadaku ketika semua orang kufur, ia membenarkan aku ketika semua orang mendustakanku, ia melapangkan aku dengan hartanya ketika semua orang mengharamkan (menghalangi) aku dan Allah memberiku rezeki berupa anak darinya.” (Mazin bin Abdul Karim Al Farih dalam kitabnya Al Usratu bilaa Masyaakil)
Karenanya saudariku muslimah, jika engkau ingin hidup dalam hati suamimu maka sertailah dia dalam mencintai dan menegakkan agama Allah, sertailah dia dalam suka dan dukanya. Jadilah engkau seperti Khadijah hingga engkau kelak mendapatkan apa yang ia dapatkan. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, Jibril mendatangi nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, inilah Khadijah yang datang sambil membawa bejana yang di dalamnya ada lauk atau makanan atau minuman. Jika dia datang, sampaikan salam kepadanya dari Rabb-nya, dan sampaikan kabar kepadanya tentang sebuah rumah di surga, yang di dalamnya tidak ada suara hiruk pikuk dan keletihan.”
Saudariku muslimah, maukah engkau menjadi Khadijah yang berikutnya?
Kamis, 17 Februari 2011
Kisah Inspiratif : Impian dan Teladan Seorang Ayah
Rubrik KELUARGA kali ini, Redaksi sadurkan sebuah cerita yang luar biasa dari buku Chicken Soup for the Parent’s Soul . Sebuah cerita yang menunjukkan besarnya cinta seorang ayah ke anaknya agar anaknya memperoleh nasib yang jauh lebih baik dari dirinya. Tetapi dalam prosesnya, Ayah ini tidak saja menunjukkan cintanya pada anaknya tetapi juga menunjukkan sesuatu yang sangat berharga yaitu pelajaran tentang impian, tekad, teladan seorang ayah, disiplin dan pantang menyerah. Semoga cerita ini menginspirasi bagi kita semua.
SETAHUKU, botol acar besar itu selalu ada di lantai di samping lemari di kamar orangtuaku. Sebelum tidur, Ayah selalu mengosongkan kantong celananya lalu memasukkan semua uang recehnya ke dalam botol itu. Sebagai anak kecil, aku senang mendengar gemerincing koin yang dijatuhkan ke dalam botol itu. Bunyi gemerincingnya nyaring jika botol itu baru terisi sedikit. Nada gemerincingnya menjadi rendah ketika isinya semakin penuh. Aku suka jongkok di lantai di depan botol itu, mengagumi keping-keping perak dan tembaga yang berkilauan seperti harta karun bajak laut ketika sinar matahari menembus jendela kamar tidur.
Jika isinya sudah penuh, Ayah menuangkan koin-koin itu ke meja dapur, menghitung jumlahnya sebelum membawanya ke Bank untuk membayar premi polis asuransi pendidikan. Membawa keping-keping koin itu ke Bank selalu merupakan peristiwa besar. Koin-koin itu ditata rapi di dalam kotak kardus dan diletakkan di antara aku dan ayah di atas sepeda motor tuanya. Setiap kali kami pergi ke Bank, Ayah memandangku dengan penuh harap. “Karena koin-koin ini kau kelak tidak perlu bekerja mengayuh becak seperti ayahmu ini. Nasibmu akan lebih baik daripada nasib ayahmu.” Setiap kali menyorongkan kotak kardus berisi koin itu ke kasir Bank, Ayah selalu tersenyum bangga. “Ini uang kuliah anakku. Dia takkan bekerja mengayuh becak seumur hidup seperti aku.”
Pulang dari Bank, kami selalu merayakan peristiwa itu dengan membeli es krim. Aku selalu memilih es krim cokelat. Ayah memilih yang vanila. Setelah menerima kembalian dari penjual es krim, Ayah selalu menunjukkan beberapa keping koin kembalian itu kepadaku. “Sampai di rumah, kita isi botol itu lagi.”
Ayah selalu menyuruhku memasukkan koin-koin pertama ke dalam botol yang masih kosong. Ketika koin-koin itu jatuh bergemerincing nyaring, kami saling berpandangan sambil tersenyum. “Kau akan bisa kuliah dengan koin dua ratus, lima ratus, dan seribu rupiah ini,” katanya. “Kau pasti bisa kuliah. Insya Allah.”
Tahun demi tahun berlalu. Aku akhirnya memang berhasil kuliah dan lulus dari universitas dan mendapat pekerjaan di kota lain. Pernah, waktu mengunjungi orang tuaku, aku masuk ke kamar tidur mereka. Kulihat botol acar itu tak ada lagi. Botol acar itu sudah menyelesaikan tugasnya dan sudah di pindahkan entah ke mana. Leherku serasa tercekat ketika mataku memandang lantai di samping lemari tempat botol acar itu biasa diletakkan.
Ayahku bukan orang yang banyak bicara, dia tidak pernah menceramahi aku tentang pentingnya tekad yang kuat, ketekunan, dan keyakinan. Bagiku, botol acar itu telah mengajarkan nilai-nilai itu dengan lebih nyata daripada kata-kata indah.
Setelah menikah, kuceritakan kepada Fatimah, istriku, betapa pentingnya peran botol acar yang tampaknya sepele itu dalam hidupku. Bagiku, botol acar itu melambangkan betapa besarnya cinta Ayah padaku. Dalam keadaan keuangan sesulit apa pun, setiap malam Ayah selalu mengisi botol acar itu dengan koin. Bahkan di kala ayah sakit sehingga tidak mampu mengayuh becak, dan Ibu terpaksa hanya menyajikan tempe goring dengan sambal bawang selama berminggu-minggu, satu keping pun tak pernah diambil dari botol acar itu. Sebaliknya, sambil memandangku dari seberang meja dan mencolekkan sepotong tempe ke sambal, Ayah semakin meneguhkan tekadnya untuk mencarikan jalan keluar bagiku. “Kalau kau sudah tamat kuliah,” katanya dengan mata berkilat-kilat, “Kau tak perlu makan hanya dengan sambal bawang dan tempe seperti ini kecuali jika kau memang mau.”
Liburan akhir tahun pertama setelah lahirnya putri kami Fitri, kami habiskan di rumah orangtuaku. Setelah makan malam, Ayah dan Ibu duduk berdampingan di sofa, bergantian memandang cucu pertama mereka. Fitri menagis lirih. Kemudian Fatimah mengambilnya dari pelukan Ayah. “Mungkin popoknya basah,” kata Fatimah, lalu di bawanya Fitri ke kamar tidur orangtuaku untuk di ganti popoknya.
Fatimah kembali ke ruang keluarga dengan mata berkaca-kaca. Dia meletakkan Fitri ke pangkuan Ayah, lalu menggandeng tanganku dan tanpa berkata apa-apa mengajakku ke kamar. “Lihat,” katanya lembut, matanya memandang lantai di samping lemari. Aku terkejut. Di lantai, seakan tidak pernah disingkirkan, berdiri botol acar yang sudah tua itu. Di dalamnya ada beberapa keping koin.
Aku mendekati botol itu, merogoh saku celanaku, dan mengeluarkan segenggam koin. Dengan perasaan haru, kumasukkan koin-koin itu ke dalam botol. Aku mengangkat kepala dan melihat Ayah. Dia menggendong Fitri dan tanpa suara telah masuk ke kamar. Kami berpandangan. Aku tahu, Ayah juga merasakan keharuan yang sama. Kami tak kuasa berkata-kata…. //**







