Tampilkan postingan dengan label syukur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label syukur. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Januari 2014

5 Hal yang Boleh Tergesa-Gesa

5 Hal yang Boleh Tergesa-Gesa

Ada lima hal yang boleh segera atau tergesa-gesa dilakukan padahal asal tergesa-gesa adalah dari setan. Namun karena ini ada kebaikan, maka boleh tergesa-gesa atau meminta segera untuk dilakukan.
Dalam Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al Ashbahani disebutkan perkataan berikut ini dari Hatim Al Ashom,
كان يقال العجلة من الشيطان إلا في خمس إطعام الطعام إذا حضر الضيف وتجهيز الميت إذا مات وتزويج البكر إذا أدركت وقضاء الدين إذا وجب والتوبة من الذنب إذا أذنب
“Ketergesa-gesaan biasa dikatakan dari setan kecuali dalam lima perkara:

Kamis, 09 Januari 2014

KEUTAMAAN MENGERJAKAN SHOLAT DHUHA , PEMBUKA PINTU REZEKI

                
Hadits Rasulullah Muhammad saw yang menceritakan tentang keutamaan shalat Dhuha, di                             antaranya:

a.     Sedekah bagi seluruh persendian tubuh manusia
Dari Abu Dzar al-Ghifari ra, ia berkata bahwa Nabi Muahammad saw bersabda:“Di setiap sendiri seorang dari kamu terdapat sedekah, setiap tasbih (ucapan subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (ucapan alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan lailahaillallah) adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah dari kemungkaran adalah sedekah. Dan dua rakaat Dhuha diberi pahala” (HR Muslim).

Jumat, 27 Desember 2013

Peran Guru / Ustadz dalam Mendidik Siswa / santri

1.    Menanamkan Kefahaman dan Menjadi Teladan Bagi Murid
Tujuan dari pendidikan bukan hanya transfer ilmu, membuat murid pandai menghafal, pandai menulis, pandai membaca melainkan juga harus ada perubahan tingkah laku murid menjadi lebih baik. Oleh karena itu di dalam mendidik murid, guru harus benar-benar tanamkan kefahaman pada murid. Jangan menambah materi jika murid belum faham betul dengan yang disampaikan.
Selain itu dibutuhkan guru yang miliki kepribadian yang luhur dan mulia agar dapat menjadi teladan bagi muridnya. Guru adalah pihak kedua setelah orang tua dan keluarga yang paling banyak berinteraksi dengan murid. Guru sangat berpengaruh dalam perkembangan seorang murid. Terlebih sebagai makhluk sosial seorang murid memiliki kecenderungan untuk mencontoh.
Oleh karena itu seorang guru tidak boleh menjatuhkan kehormatan pribadinya di depan murid dengan melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan kriteria perilaku seorang guru. Perilaku guru dalam mengajar akan memengaruhi motivasi belajar pada murid. Dalam mendidik murid, seorang guru tidak boleh hanya sebatas kata-kata, melainkan harus diaplikasikan dalam bentuk perilaku, tindakan dan contoh-contoh yang baik. Karena sejatinya perilaku itu lebih mudah dan lebih banyak dicontoh daripada hanya sekedar kata-kata. Disamping itu guru yang tidak mengamalkan atas apa yang disampaikan kepada murid hanya akan merendahkan martabat dirinya di hadapan orang yang seharusnya menghormatinya dan juga diancam siksa.
Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW :
مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى قَوْمٍ تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيْضَ مِنْ نَارٍ قَالَ قُلْتُ مَنْ هَؤُلاَءِ قَالُوْا خُطَبَاءُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا كَانُوْا يَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَيَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ وَهُمْ يَتْلُوْنَ الْكِتَابَ أَفَلاَ يَعْقِلُوْنَ (رواه أحمد والبيهقي وابن حبان وابن أبي الدنيا - صحيح)
Pada malam aku dijalankan (Isra` Mi’raj) aku melewati kaum yang bibir mereka digunting dengan gunting api. Aku (Nabi) bertanya, “Siapakah mereka itu wahai Jibril?” Kemudian Jibril menjawab, “(mereka) Orang-orang yang khutbah (nasehat) dari umatmu (Muhammad), memerintahkan pada manusia pada kebaikan dan mereka melupakan pada diri mereka, sedangkan mereka tergolong orang-orang yang diberi kitab, apakah mereka tidak berakal?”

Jumat, 29 Maret 2013

SUDAHKAH BERSYUKUR AKU HARI INI ???


Begitu banyak nikmat Alloh yang diberikan kepada kita, sampai - sampai kita tak akan pernah mampu untuk menghitungnya, bukan karena terlalu kecilnya nikmat, seperti debu, yang karena lembutnya kita tidak akan pernah mampu menghitungnya, namun karena begitu lengkap dan kompleksnya nikmat dari Alloh yang kita dapatkan. Terkadang membutat kita lalai - lupa mensyukurinya ? Seolah - olah nikmat Alloh itu automatic ada dalam diri kita, Mestikah kita menunggu nikmat Alloh itu dicabut baru kemudian kita terhentak untuk merenungi nasib ?

BAHAYA INVESTASI BODONG


Minggu, 03 Maret 2013

MAAF...SANTRI BARU SUDAH PENUH

MOHON MAAF...MAAF SANTRI BARU SUDAH PENUH.....
Kata itulah yang disampiakan para petugas pendaftar santri baru Pondok Pesantren Gadingmangu, hanya dalam hitugan jam kuota santri baru telah terpenuhi. Hari Sabtu, 2 Maret 2013, jam 8.00 penerimaan santri baru , dibuka dan hari itu juga ditutup karena sudah penuh, semua pimpinan dan segenap pengurus hanya bisa minta maaf karena kamar yang tersedia suda penuh. WALAUPUN PONDOK SUDAH PENUH, NAMUN PARA SANTRI BISA BERTEMPAT DI SEKITAR PONDOK YANG MEMILIKI STIKER TERIMA KOST PUTRA ATAU TERIMA KOST PUTRI. KEGIATAN MENGIKUTI KURIKULUM PONDOK, HANYA TEMPAT TINGGALNYA DI LUAR PONDOK. BANYAK TEMPAT DISEDIAKAN OLEH TIM KOST.
Animo masyarakat untuk menjadikan putra - putrinya sebagai mubalighin sangat luar biasa, apalagi sekaligus bisa bersekolah di SMA Budi Utomo yang telah bertatus TERAKREDITASI A.

Senin, 18 Februari 2013

Mutiara Rumah Tangga(Nasehat Perkawinan)


7 Mutiara Menuju Kebahagiaan Rumah Tangga(Nasehat Perkawinan)
oleh Catatan Catatan Islami pada 12 Juli 2010 pukul 17:20 ·

ومن أياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لت
سكونوا إليها وجعل بينكم مودة ورحمة إن في ذالك لأيات لقوم يتفكرون ( الروم / 21
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. [QS. Ar-Rum ayat 21]

Kamis, 24 Mei 2012

PRESIDEN MENERIMA PENGURUS LDII


Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari Kamis ( 28/8) sore menerima Ketua Umum PP Lembaga Dakwah Islam Indonesia Prof.Dr.Ir.KH. Abdullah Syam, beserta beberapa pengurus LDII lainnya, di Kantor Kepresidenan. Dalam pertemuan itu dibahas berbagai hal, termasuk kegiatan LDII baik secara makro maupun mikro.

Prasetyo Sunaryo, juru bicara LDII kepada wartawan mengatakan, "Ada tiga yang laporkan kepada Presiden, pertama sebagai lembaga dakwah pendekatan yang dilakukan LDII kepada masyarakat adalah amar m`aruf nahi munkar, artinya apa yg baik kita sampaikan dan apa yang harus kita perbaiki kita sampaikan juga. Kedua tentang harapan-harapan LDII, dan ketiga kami menjelaskan posisi LDII,” kata Parsetyo Sunaryo.

” Kami juga menyampaikan usulan agar ada komunikasi horisontal antara umat Islam, maupun dengan umat beragama lainnya. Perlu dikembangkan pula agar kerukunan keharmonisan tetap terjaga, dan itu memang sesuai dengan visi dan misi LDII. Kami juga menyampaikan kegiatan LDII yang bersifat makro dan mikro seperti dalam bidang pertanian, lingkungan hidup dan kegiatan sehari hari,” katanya.

Lembaga Dakwah Islam Indonesia atau LDII adalah sebuah organisasi Islam di Indonesia, awalnya bernama Yakari (Yayasan Karyawan Islam), didirikan tanggal 3 Januari 1972 di Surabaya. Pada msyawarah YAKARI tahun 1981, nama YAKARI diganti Lemkari (Lembaga Karyawan Islam). Pada tahun 1990 saat berlangsungnya Musyawarah Besar LEMKARI ke IV di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, atas saran Rudini yang saat itu manjadi mendagri, organisasi ini diubah namanya menjadi LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia), dengan alasan agar namanya tak sama dengan Lembaga Karatedo Indonesia yang juga berama LEMKARI. (win)

Kamis, 24 Februari 2011

Kisah Inspiratif: Ashabul Uhdud

A

lkisah tersebutlah seorang Raja kafir yang menganggap dirinya tuhan yang harus disembah oleh seluruh manusia. Siapapun yang tidak mau menyembahnya akan dihukum berat. Sang raja selalu didampingi seorang tukang sihir tua dan seorang patih yang gagah berani.

Suatu hari tukang sihir berkata kepada raja, “Paduka…Usia hamba sudah sangat tua dan tidak lama lagi hamba akan mati. Mohon Paduka mencari seorang pemuda yang cerdas untuk hamba warisi semua ilmu sihir yang hamba miliki.”

Permohonan tukang sihir dikabulkan oleh raja. Seluruh prajurit kerajaan dikerahkan untuk mencari pemuda seperti apa yang diinginkan oleh tukang sihir. Beberapa hari kemudian ditemukanlah Ghulam, seorang bocah dibawah umur yang diketahui memiliki otak cemerlang. Setelah memohon izin pada orang tuanya, Ghulam berangkat ke istana dan mulai belajar ilmu-ilmu sihir. Setelah seharian belajar, sore harinya Ghulam diperbolehkan pulang ke rumah orangtuanya. Namun keesokan harinya Ghulam harus sudah kembali ke istana. Berkat kecerdasan dan ketekunannya, dalam waktu singkat Ghulam sudah menguasai hampir seluruh ilmu yang dimiliki tukang sihir.

Pada suatu hari ketika Ghulam berangkat ke istana, ditengah perjalanan ia bertemu seorang kyai.

“Hai bocah kecil, hendak kemana kau sendirian pagi-pagi begini” tanya pak Kyai kepada Ghulam

Ghulam bercerita dari awal ia bertemu prajurit kerajaan sampai berguru kepada tukang sihir kerajaan. Pak Kyai tersenyum mendengar penuturan bocah cilik yang lugu itu.

“Wahai bocah, ilmu yang kau pelajari selama ini adalah sihir. Belajar ilmu sihir adalah suatu perbuatan yang sangat dimurkai oleh Alloh tuhan yang menciptakan seluruh jagad raya beserta isinya…..”

Penjelasan Pak Kyai tentang ketuhanan membuat Ghulam semakin tertarik dan ingin mengetahui lebih jauh lagi.

“Pak Kyai, bolehkah aku menjadi muridmu” Bimbinglah aku agar tidak salah jalan…”

“Tentu saja boleh. Tapi bagaiman dengan latihanmu di istana?”

“Sudahkah Pak Kyai mengijinkan aku untuk tetap latihan di istana agar Raja dan guruku tidak curiga?”

“Baiklah. Kalau begitu datanglah kau kesini pagi hari sebelum latihan dan sore hari setelah latihan di istana”

“Terimakasih Pak Kyai, mulai besok pagi engkau menjadi guruku”

Pertemuan antara Ghulam dengan Pak Kyai membuat Ghulam selalu terlambat datang ke istana dan terlambat pulang ke rumah. Ia tak bisa mengelak dari hukuman tukang sihir atas keterlambatannya, demikian juga hukuman dari orangtuanya. Keadaan ini diceritakan kepada Pak Kyai.

“Aku bisa mengerti kegaluan hatimu, Nak. Demi kebaikan semua, jika kau terlambat datang ke istana buatlah alasan bahwa di rumah banyak pekerjaan, sedangkan kalau kau terlambar pulang, jelaskan kepada orang tuamu bahwa banyak sekali ilmu-ilmu yang harus dipelajari di istana.”

Waktu terus berjalan, Ghulam semakin banyak menguasai ilmu-ilmu sihir. Hingga pada suatu sore ketika Ghulam pulang dari istana, terjadi keributan di tengah kota. Seekor harimau sedang mengamuk. Ia mulai menyusup diantara warga yang sedang panik, hingga akhirnya ia berhadapan langsung dengan binatang buas itu. Binatang itu mengambil ancang-ancang akan menyerang Ghulam. Ghulam mengambil sebuah batu, lalu berdoa…..

“Ya Alloh….kalau memang ilmu Pak Kyai yang Engkau ridhoi daripada ilmu tukang sihir, maka matikanlah binatang ini….”

Ghulam melempar batu tepat mengenai kepala binatang itu hingga menggelepar dan akhirnya mati. Penduduk kota yang memperhatikan tingkah laku Ghulam langsung keluar dari persembunyiannya dan bersorak sorai mengelu-elukan Ghulam. Namun Ghulam tidak memperdulikan, ia terus berjalan meninggalkan tempat tersebut. Setibanya di rumah Pak Kyai, Ghulam menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya. Setelah selesai mendengar cerita Ghulam Pak Kyai berkata….

“Anakku, ternyata kau lebih hebat daripada aku. Kau sendiri telah membuktikan bahwa segala sesuatu yang benar pasti dimenangkan oleh Alloh dan segala sesuatu yang bathal pasti akan dihancurkan oleh Alloh. Ketahuilah nak, menetapi kebenaran pasti ada cobaan. Jika suatu saat kau dipanggil oleh Raja, jangan katakan kalau kau mendapat pelajaran dariku”

Sejak saat itu Ghulam semakin yakin atas kebenaran ilmu yang diajarkan Pak Kyai, bahwa tiada daya dan kekuatan di muka bumi ini melainkan hanyalah milik Alloh, tuhan semesta alam. Sementara itu seluruh pelosok negeri telah tahu bahwa Ghulam adalah si bocah sakti, ia bisa mengobati segala macam penyakit.

Pada suatu hari datanglah Patih raja ke rumah Ghulam Ia terserang penyakit yang ganas sehingga kedua matanya menjadi buta. “Wahai Ghulam, jika kau bisa menyembuhkan sakitku sehingga kedua mataku kembali dapat melihat, akan kuberi kau hadiah yang sangat besar. Apapun yang kau minta akan kukabulkan…”

“Sebenarnya aku tidak bisa menyembuhkan sakit apapun. Yang mendatangkan sakit adalah Alloh, maka yang dapat menyembuhkan pun hanyalah Alloh. Jika tuan Patih mau beriman kepada Alloh, aku akan memohon kepada Alloh agar Dia menyembuhkan sakitmu”

Setelah mendengar banyak nasehat dari Ghulam, akhirnya sang Patih menyatakan dirinya beriman kepada Alloh, lalu Ghulam berdoa untuk kesembuhan Patih. Secara samar-samar Patih mulai melihat sekililingnya hingga akhirnya pandangannya menjadi jelas. Patih pulang ke istana untuk kembali menjalankan tugas mendampingi sang Raja. Sesampainya di istana, Raja terkejut melihat patih…

“Paman Patih. Kau sudah sembuh?! Siapa yang menyembuhkanmu?”

“Ampun paduka… Yang menyembuhkan sakitku adalah tuhanku dan tuhan paduka, yaitu Alloh…”

“Apa katamu?! Bukankah aku adalah tuhanmu?! Akulah yang pantas disembah oleh semua manusia dimuka bumi !”

Tanpa ampun lagi, Raja memerintahkan pengawalnya untuk menghukum paman Patih dengan hukuman yang berat.

“Hai Patih! Siapa yang telah mengajarimu untuk mengkhianati Rajamu!”

“Paduka…Ghulam yang telah mengajariku. Tetapi kumohon ampunilah dia. Dia masih terlalu kecil untuk mendapatkan hukuman, biar aku saja yang menanggung semua kemarahan paduka…”.

AKHIRNYA Ghulam dipanggil menghadap Raja. Sang Raja tidak marah kepada Ghulam, karena ia tahu bahwa Ghulam adalah calon pengganti tukang sihir kerajaan.

“Wahai anakku, tak kusangka kau menjadi seorang bocah yang luar biasa. Kau dapat menyembuhkan sakit yang diderita patihku. Ilmu sihir yang kau miliki, lebih hebat daripada ilmu sihir gurumu….”

“Paduka jangan salah. Sebenarnya hamba tidak dapat menyembuhkan sakit apapun. Yang mendatangkan sakit adalah Alloh, maka yang dapat menyembuhkan pun hanyalah Alloh. Alloh adalah tuhan hamba dan tuhan Paduka. Dialah tuhan yang pantas disembah oleh manusia di muka bumi. Dialah tuhannya alam semesta ini….”

Seketika itu muka Raja menjadi merah, hatinya geram menahan amarah. Ghulam pun mendapatakan hukuman yang setimpal. Ia dipaksa mengaku, siapa orang yang telah menanamkan keyakinan itu kepadanya. Namun Ghulam teringat akan pesan Pak Kyai, sehingga ia tidak mau mengaku. Hukuman makin ditingkatkan. Ghulam tidak tahan dengan beratnya hukuman itu, akhirnya ia mengaku bahwa gurunya adalah Pak Kyai. Tak lama kemudian Pak Kyai sudah dibawah ke istana.

“Pak Kyai! Kembalillah kau pada agama nenek moyangmu! Akuilah aku sebagai tuhan!”

“Maaf paduka. Permintaan paduka tidak bisa hamba kabulkan.”

“Pengawal…! Hukum dia!”

Masuklah seorang algojo dengan geraji ditangannya. Geraji diletakkan tepat di belahan kepala pak Kyai, namun pak Kyai tidak sedikitpun merasa takut. Pak Kyai yakin bahwa sebentar lagi ia akan mendapatkan balasan atas keteguhan imannya. Tubuh Pak Kyai sedikit demi sedikit terbelah menjadi dua. Ia telah gugur sebagai pejuang yang menegakkan Agama Alloh.

“Patih! Kini giliranmu! Apa kau juga akan mengikuti jalan kyai bodoh itu!” teriak sang Raja.

“Paduka ….Lebih baik aku mati daripada dipaksa menentang Alloh tuhanku”

Akhirnya sang Patih mengalami nasib yang sama seperti Pak Kyai, tubuhnya terbelah menjadi dua bagian. Tinggallah Ghulam seorang diri yang beriman kepada Alloh. Tiba-tiba Raja berteriak memanggilnya

“Ghulam! Kau tahu, kedua temanmu telah mati. Kau tidak seperti mereka bukan? Bagaimana? Kau mau meninggalkan tuhanmu dan kembali ke agama nenek moyangmu?”

Tentu saja Ghulam menolak tawaran Raja. Namun kali Raja tidak bisa berbuat banyak kepada Ghulam. (“Anak ini masih terlalu kecil untuk menerima kematian seperti kyai dan Patih. Akan kubuat siasat saja….”)

“Ghulam …. Sekarang kau boleh tunggu di luar. Pengawal….! Ajaklah anak itu naik gunung, tanyalah ia apa mau kembali ke agama nenek moyangnya, jika tidak mau, setelah sampai puncak gunung doronglah die ke jurang…”

Berangkatlah para pengawal raja bersama Ghulam menuju puncak gunung. Ghulam tahu bahwa ini adalah rencana pembuhunah dirinya. Maka berdoalah ia, Ya Alloh…Cukupillah aku dari kejelekan mereka dengan apa-apa yang Kau kehendaki….

Saat itu tiba-tiba terjadi gempa bumi, longsorlah gunung yang akan didaki itu menimpa para pengawal raja, mereka semua tewas. Ghulam diselamatkan Alloh, tubuhnya tidak tergores sedikitpun lalu ia kembali ke istana. Bukan main kagetnya sang raja demi melihat Ghulam pulang dalam keadaan selamat.

“Hai bocah! Mengapa kau masih disini?! Mana para pengawalku?!

“Mereka mati dibunuh Tuhanku…”

Raja kembali mengutus pengawalnya untuk membawa Ghulam berlayar dengan maksud akan melempar Ghulam ke tengah lautan. Ditengah perjalanan Ghulam kembali berdoa agar Alloh menyelamatkan dan merusak kepada orang-orang yang berniat jelek kepadanya. Tiba-tiba datang ombak besar, perahu yang mereka tumpangi terbalik dan pecah, semua mati tertelan ombak kecuali Ghulam yang selamat kembali ke istana. Raja kembali dikejutkan dengan kedatangan Ghulam.

“Ghulam …! Kau kembali?! Mana yang lain?!

“Mereka ditenggelamkan Alloh di tengah lautan. Paduka…Engkau tidak akan dapat membunuhku, karena Alloh belum menghendaki aku mati. Jika Paduka ingin membunuhku, patuhilah syarat-syarat yang kuajukan”.

“Katakan apa syarat itu !”

“Kumpulkan seluruh rakyat di alun-alun, tanpa kecuali. Ikatlah aku di pohon kurma, lalu panahlah aku. Sebelum Paduka melepaskan anak panah, Paduka haru berteriak keras …BISMILLAHI ROBBIL GHULAM (Dengan menyebut nama Alloh, tuhannya Ghulam )

Hari itu alun-alun sudah penuh warga yang berkumpul sejak pagi, mulai bayi, remaja, pria, wanita sampai kakek nenek. Ghulam sudah terikat pohon kurma. Busur dan anak panah sudah ada di genggaman sang Raja. Sang Raja mendatangi para menterinya satu per satu lalu berkata…..

“Firasatku mengatakan, akan terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan. Tetapi apapun yang terjadi, bocah itu harus mati?”

Para menteri kerajaan hanya terpaku memikirkan apa maksud perkataan raja seperti itu. Raja mulai menarik busur dan anak panah, lalu diarahkan ke tubuh Ghulam. Raja berteriak…. BISMILLAHI ROBBIL GHULAM….(Dengan menyebut nama Alloh, tuhannya Ghulam) Anak panah melesat mengenai pelipis Ghulam. Seketika itu Ghulam meninggal dunia sebagai pejuang agama Alloh. MATI SYAHID!

Begitu melihat Ghulam terbunuh, rakyat yang sejak tadi terpaku tiba-tiba menjadi bergemuruh. Mereka menyatakan beriman kepada Alloh…KAMI BERIMAN KEPADA TUHANNYA GHULAM!... KAMI BERIMAN KEPADA TUHANNYA GHULAM!... KAMI BERIMAN KEPADA TUHANNYA GHULAM!...

Raja yang kegirangan melihat Ghulam telah mati kini berubah menjadi panik. Para menteri kerajaan dikumpulkan untuk bersidang.

“Wahai Paduka…Ternyata firasat paduka benar. Hampir seluruh rakyat negeri ini meninggalkan paduka. Mereka beriman kepada Tuhannya Ghulam. Sekarang apa yang harus kita lakukan ?”

“Galilah lubang yang besar dan dalam pada setiap perempatan jalan, lalu nyalakan api di dalamnya. Bagi siapa yang tidak mau kembali ke agama kita, lemparkan ke dalamnya”.

Perintah pun dilaksanakan. Sudah puluhan rakyat yang di lemparkan ke dalam lubang api karena mereka mempertahankan keimanannya kepada Alloh. Hingga tiba giliran seorang ibu yang menggendong bayinya. Sang ibu memandang bayinya….

“Nak…Kalau ibu melompat bagaimana denganmu?” Tiba-tiba bayi dalam gendongan itu berbicara….

“Ayo ibu………. Melompatlah……… Sesungguhnya engkau dalam mempertahankan kebenaran….”

Langsung sang ibu melompat bersama bayinya. Mereka yang telah terjun kedalam lubang itu berprinsip Lebih baik mati daripada hidup dipaksa kafir kepada Alloh. Lebih baik masuk lubang api di dunia daripada dibakar api neraka di akhirot.

API yang membara di lubang-lubang itu ternyata kian membesar dan sulit di padamkan, hingga merembet ke perumahan penduduk yang akhirnya menyambar istana raja. Raja beserta seluruh pengikutnya mati terbakar.

************

Sumber HR “Shohih Muslim”

Kisah Inspiratif : Asiyah Penegak Aqidahr

D

ahulu kala Mesir merupakan negeri dengan tingkat kebudayaan yang tinggi. Hingga kini peninggalannya masih menakjubkan dan penuh dengan misteri. Sungai Nil membelah daratan Mesir membuat negeri ini subur dengan peradaban yang lebih maju ketimbang negeri lainnya. Fir’aun adalah gelar yang diberikan pada raja yang memimpin negeri itu.

KEMAKMURAN dan tingginya peradaban bangsa Mesir membuat Fir’aun menjadi angkuh dan sewenang-wenang, bahkan Fir’aun menganggap dirinya tuhan yang harus disembah oleh seluruh manusia. Tidak segan-segan Fir’aun menghukum salib bagi rakyat yang menentangnya, seperti tercantum dalam Al Qur’an surat Al Fajr ayat 10 : “Dan kepada Fir’aun yang mempunyai banyak salib”.

Sifat Fir’aun yang kejam dan kasar sangat bertolak belakang dengan sifat istrinya, Asiyah binti Mazaahim. Selain parasnya yang cantik, Asiyah memiliki perangai yang lemah lembut dan menyayangi rakyatnya. Kehidupan Fir’aun dan Asiyah ditemani seorang putrinya dan banyak sekali para punggawa dan pelayan yang setia.

Hingga pada suatu hari ketika putri Fir’aun sedang bersolek, ia memanggil seorang pelayan yang mempunyai tugas menyisir rambutnya. Ketika pelayan sedang menyisir rambut putri Fir’aun, tiba-tiba sisir terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai. Karena terkejut tanpa di sadari terlepas ucapan dari mulutnya, “Rugilah orang yang ingkar pada Tuhan Alloh!”.

Kalimat itu membuat puteri Fir’aun terhenyak,”Hai! Apa katamu? Tuhanmu adalah ayahku, raja Fir’aun. Mengapa kau sebut-sebut Tuhan Alloh?!”

“Alloh adalah Tuhan saya, Tuhannya baginda Fir’aun dan Tuhannya semesta alam”.

“Jadi kau tidak mau mengakui ayahku sebagai tuhan?”

“Maaf tuan puteri, tapi memang demikian adanya”

“Plaakk!!!” puteri Fir’aun smenampar muka si pelayan,”Kurang ajar! Akan kuadukan pada ayahku!”

Buru-buru puteri Fir’aun keluar kamar dan menemui ayahnya, ia menceritakan kejadian yang baru dia alami.

Hmm. Benarkah?” Tanya Fir’aun.

“Benar ayah, dia malah menyebut-nyebut Alloh sebagai Tuhan alam semesta”

Fir’aun murka, diperintahkannya dua orang pengawal untuk membawa si pelayan ke hadapannya. Setelah si pelayan menghadap,”Hai pelayan! Kata puteriku kau mengakui tuhan selain aku?”

“Maaf baginda. Tuhanku dan juga Tuhan baginda adalah Alloh. Di seluruh alam ini hanya Alloh lah yang wajib disembah”

Kalimat yang keluar dari mulut pelayan itu membuat telinga Fir’aun memerah. Tak ayal lagi, ia menjebloskan si pelayan ke dalam penjara yang disiapkan bagi orang-orang yang dianggap berbahaya dan mambangkang. Dalam keadaan kaki tangan terikat, si pelayan dilempar ke dalam ruangan yang gelap dan kumuh, lalu sengaja dilepaskan berbagai macam binatang berbisa untuk menambah siksaan.

Berhari-hari si pelayan mendekam di dalam penjara. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka gigitan dan sengatan. Namun ia tetap sabar dan tabah, keimanannya bahkan bertambah tebal. “Tidak sepantasnya aku mengeluh. Apalah artinya siksaan ini dibandingkan dengan siksa Alloh di neraka. Ya Alloh, berilah hamba kekuatan...”

Keteguhan Hati Si Pelayan

SUATU ketika datanglah Fir’aun disertai pengawal menengoknya. Fir’aun berharap dengan beratnya siksaan yang dialami si pelayan maka ia akan kembali setia pada Fir’aun. Tetapi sia-sia, keteguhan hati si pelayan dan cintanya kepada Alloh membuat ia rela menderita di dunia demi kebahagiaan yang kekal di sisi Alloh.

Lagi-lagi Fir’aun berang. Kini ia melakukan berbagai cara untuk menekan si pelayan agar mau kembali setia padanya.

“Pengawal! Cambuk Dia dan bawa anaknya kemari!”

Tak lama kemudian pengawal sudah menggendong dua bocah yang masih lugu dan lucu. Fir’aun hendak menunjukkan kekejamannya terhadap orang-orang yang menentangnya. Salah satu anak si pelayan diikat dan lehernya disandarkan pada batu besar, pedang di tangan Fir’aun telah diletakkan di atas leher si anak.

“Ibuuu!!!” teriak si anak memandangi ibunya berharap agar si ibu menolongnya.

“Ohh, Anakku ...”

Pemandangan yang sangat mengerikan sekaligus mengharukan itu sempat dilihat oleh Asiyah, istri fir’aun.

“Kakanda, bisahkah engkau mengubah hukuman Dia?”

“Jangan ikut campur! Bila tidak tahan keluar dari ruangan ini!”

Cress!!!” Anak tak berdosa itu tewas oleh pedang Fir’aun. Si pelayan pun menangis demi melihat anaknya dibunuh. Asiyah yang juga menyaksikan kejadian itu tak dapat membendung air matanya. Ia mendekati si pelayan dan mengelus kepalanya,”Tabahkan hatimu....”

Di tengah suasana yang penuh duka, terdengar suara yang hanya bisa didengar oleh si pelayan dan Asiyah, itu adalah suara anak si pelayan yang baru saja dibunuh.

“Ibu, janganlah menangisi kepergianku. Aku telah bahagia di dalam surga. Berbahagialah, ibu akan mendapat pahala yang besar dari Alloh karena ketaqwaan ibu kepada Alloh...” Kemudian suara itu menghilang.

Asiyah yang memperhatikan semua ini dalam hatinya berkata,”Betapa teguh perempuan ini, apa yang diyakininya memang benar. Fir’aun bukanlah tuhan, tapi manusia biasa yang kejam dan licik”

Keyakinan Asiyah pada Alloh

KEESOKAN harinya Fir’aun, Asiyah dan pengawalnya kembali mendatangi si pelayan. Kali ini pengawal menggandeng anak pelayan yang kedua. Sementara kondisi kesehatan Pelayan semakin memburuk akibat luka-lukanya ditambah guncangan jiwa atas kematian anak pertamanya di tangan Fir’aun.

“Hei Pelayan! Nasib anakmu ada ditanganku. Apa kau tetap menyembah kepada Alloh?”

Anak pelayan meronta-ronta di cengkraman Fir’aun,”Ibuu, tolong aku Bu...”

“Apapun yang Baginda lakukan terhadap saya dan anak saya, tidak akan mengubah keyakinan saya”

“Kurang ajar!!!”

Crass!!!” pedang Fir’aun kembali memengal kepala anak si Pelayan. Seorang anak tak berdosa lagi-lagi menjadi korban kebiadaban Fir’aun. Pelayan tidak dapat berbuat apa-apa, hanya air mata yang terus mengalir dari pelupuk mata. Hatinya hancur, kedua buah hati yang dicintainya telah dibantai oleh Fir’aun. Mulutnya hanya bisa berkata pelan,’Ya Alloh. Kuatkanlah iman hamba dalam menghadapi cobaan ini ...”

Tiba-tiba terdengar kembali suara yang hanya bisa didengar oleh Pelayan dan Asiyah, itu adalah anak pelayan yang baru saja dibunuh,”Ibu, jangan sedih. Disini aku bahagia. Bersabarlah Bu, Alloh pasti akan menolong Ibu”

Demi mendengar kalimat yang diucapkan anaknya seolah si pelayan telah menemukan obat bagi penderitaannya. Pelayan telah menemukan kedamaian, tubuhnya terkulai lemas dengan mata terpejam. Alloh telah memanggilnya. Derita pelayan itu telah berakhir dania menjumpai kebahagiaan di sorga bersama anak-anaknya.

Sementara Asiyah diam membisu, ia terpana demi melihat kejadian di depan matanya, “Aku yakin Pelayann dan anak-anaknya itu bahagia di dalam lindungan Alloh. Aku yakin kata-kata pelayan itu benar, tidak ada Tuhan selain Alloh,” katanya dalam hati.

“Kakanda Fir’aun. Aku rasa apa yang diyakini pelayan itu benar. Bahwa Alloh adalah Tuhan yang sesungguhnya”

“Istriku, mungkin hatimu sedang guncang. Beristirahatlah!”

“Tidak!! Aku yakin bahwa Tuhan sesunguhnya adalah Alloh”

“Pengawal! Bawa istriku ke kamar. Kurung dia!”

Fir’aun menghukum Asiyah

FIR’AUN menjadi gusar dengan perubahan yang terjadi pada istrinya. Akhirnya Fir’aun memutuskan untuk membahas kerisauannya di hadapan para menterinya. Salah satu menteri berkata,”Menurut hamba, permaisuri baginda adalah wanita yang lembut dan bijaksana.”

Yang lain berkata. “Ratu juga sangat dicintai rakyat.”

“Tapi dia tidak mengakuiku sebagai Tuhan,” potong Fir’aun.

Menteri yang lain berkata,”Apakah kejadiannya memang demikian? Demi kemuliaan Fir’aun, kalau memang demikian Ratu Asiyah harus dilenyapkan, agar keyakinan terhadap Alloh tidak diikuti rakyat.”

“Kalau begitu tangkap Asiyah dan bawa dia ke padang pasir! Siapkan batu besar, aku sendiri yang akan menghukumnya.”

Asiyah pun digiring oleh bebeapa pengawal diikuti Fir’aun dan para menteri menuju padang pasir. Di bawah teriknya matahari Asiyah dibentangkan dengan kaki dan tangan terikat pada tonggak kayu. Sebuah batu besar telah diangkat di atas tubuh Asiyah. Namun tidak sedikitpun terlukis kesedihan di wajahnya.

“Mungkin inilah jalan yang harus Aku lalui demi mendapat kebahagiaan yang kekal di sisi Alloh. Mudah-mudahan cobaan ini dapat menghapus semua dosaku selama hidup bersama fir’aun. Ya Alloh, bangunkanlah untuk hamba sebuah rumah disisiMu dalam surga. Selamatkanlah hamba dari perbuatan Fir’aun dan kaumnya yang dzalim”

Alloh cinta kepada hambanya yang bertaqwa, dikabulkannya permohonan Asiyah. Seketika itu juga Asiyah dapat melihat surga di depan matanya. Asiyah yakin bahwa pemandangan itu adalah rumah akan ia huni di dalam surga. Sehingga tersenyumlah Asiyah dengan penuh kebahagiaan. Sementara Fir’aun dan pengikutnya terheran melihat tingkah Asiyah.

“Hei lihat! Akibat menyembah Alloh dia telah gila! Mau dibunuh malah tersenyum”

“Pengawal! Lakukan!”. “Crass!!!

Batu besar itu menghantam tubuh Asiyah. Tetapi sebelum batu itu menyentuh kulit Asiyah, terlebih dahulu Alloh telah mengambil ruhnya. Asiyah tidak merasakan penderitaan karena batu itu hanya menghujam jasad yang sudah tak bernyawa.

Ketaqwaan kepada Alloh akan mendapat balasan yang sangat besar dari Alloh. Ruh Asiyah menyusul ruh pelayan dan kedua anaknya ke surga, tempat kesejahteraan, kebahagiaan, ketentraman dan kemuliaan yang kekal*

************

(Sumber QS 66:11, Tafsir Ibnu Katsir)


“Menjadi Pondok Pesantren Yang berkemampuan global dalam dakwah Islam sehingga mendorong Umat Islam dan umat manusia pada umumnya memiliki kehidupan Yang sejahtera berbasis agama, kejujuran, amanah, hemat dan kerja keras, rukun,kompak serta dapat bekerjasama dengan baik”.